Jumat, 2009 Juli 10
- sekarang, aku, dan masa depanku
- titian yang telah aku arungi
- proses kedewasaan
- pembentukkan karakterku
- hubungan dengan lingkungan luar
- aku dalam keluarga
- aku dalam organisasi
- aku dalam keinginanku
- aku dalam tantanganku
- aku dengan pribadiku
Rabu, 2009 Juli 08
Minggu, 2009 Juli 05
250 Lebih Calon Ilmuwan
Siapa kira membuat robot itu sulit? Di PIRN (Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional) VIII yang dilaksanakan di Yogyakarta selama sepekan di akhir Juni lalu, para calon ilmuwan Indonesia yang berasal dari 29 provinsi di Indonesia telah membuktikan bahwa membuat robot itu tak begitu menyulitkan. Terbukti, meski hanya diberi waktu 4 jam, seluruh peserta yang dibagi ke dalam 60-an kelompok ini mampu menyelesaikan dengan apik. Bahkan mampu mengendalikan robot secara sempurna. Padahal, hampir semua peserta belum pernah merancang robot.
Kegiatan yang dilaksanakan khusus pada Jumat, 26 Juni ini dipandu langsung oleh sekira 15 mahasiswa Fakultas Teknik Elektro IST AKPRIND Yogyakarta. Selain itu, dibimbing pula oleh Pak Samuel Kristiyana S. E. A., S.T., M.T., UPT Pengemabangan Promosi dan Peneriamaan Mahasiswa Baru di institut yang sama. Pak Samuel ini telah berkecimpung di dunia robotika sejak tahun 1996 lho.
Sesungguhnya, cara kerja robor itu hampir sama dengan manusia. Robot tersusun dari alat pengindra, pengingat, pengolah, pelaksana, hingga sumber tenaga. Kinerja robot terkendali berdasarkan instruksi yang disimpan kemudian ditambah pengolah masukkan dan inerupsi. Selanjutnya diwujudnyatakan keluaran yang diinginkan. Setiap robot memiliki sensor untuk mengendalikan intruksi.
***
Perancangan robot terdiri dari alat perangkat mekanik dan elektronik. Perangkat mekanik itu berupa kerangka, sedangkan perangkat elektronik adalah perangkat yang digunakan untuk mengendalikan robot. Perangkat ini terdiri dari alat sensoris, jumper, dan beberapa alat lainnya. Untuk merampungkan perangkat elektronik diperlukan ketelitian dan konsentrasi yang cukup tinggi, khususnya dalam merekatkan karena harus menyoldier.
Empat jam berlalu. Banyak hal unik yang terjadi pada robot.
Teknologi memang bisa dengan cepat kita kuasai, robot salah satunya. Kalau teman-teman tertarik, bias hubungi Pak Samuel lewat facebook atau email ke : yana_ista@yahoo.com.
Deliabilda
PIRN VIII /SMA Al Muttaqin
yang diarahkan oleh sensorik dalam tubuhnya
hanya sepersekian saja yang bisa pengaruhinya
apalagi dalam sebuah keputusan
aku pun masih tak mengerti manusia itu apa
seperti apa
untuk apa
ada saja yang diperhatikan, meski tak ingin diperlakukan demikian
di sisi lain,
di ujung tombak yang berdiri tegak, namun sesungguhnya hampir rapuh
ada seorang yang sedang kelimpungan
mencari dirinya sendiri
menemukan kehidupannya
yang terlihat tegar namun tetaplah rapuh
ada tangisan
ada impian untuk menerawang masa depan
tapi siapa yang akan merangkul?
jika ada dalam doa saja
iia
doa begitu dasyat
tapi tanpa ikhtiar
mestikah lagi ada kehidupan?
15:35
5 Juli 2009
Jumat, 2009 Juli 03
Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi
Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?"Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?
Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.
Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.
Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”
Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius."
Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.
Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.
Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.
Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.
Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),”
ungkapnya.
Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.
Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.
Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).
Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.
Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak.
Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!!!” katanya.
Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.
Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.
Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya.
Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!
Anda terperanjat?
Itulah kenyataannya.
Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?
Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.
Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.
Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran.
Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.
Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.
Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.
Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.
Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.
Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.
“Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu.
Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!!
“Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia?
Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?”
http://sabili.co.id/
Selasa, 2009 Juni 30
Dalam acara pembukaan PIRN (Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional) VIII yang dilaksanakan pada Senin, 22 Juni lalu, hadir seorang penyanyi, presenter, dan desainer grafis yang mengecimpungkan dirinya ke dunia sosial. Adalah Dik Doank yang bernama lengkap Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denda Kusuma, yang menyentuh hati hampir 300 siswa dan ratusan guru se-Indonesia di Taman Pintar, Yogyakarta.
Dik Doank adalah anak nakal yang pernah tidak naik kelas. Namun di balik masa lalunya yang kelam, hari dewasanya Allah anugerahkan kenikmatan yang luar biasa. Ia menjadi pribadi yang sukses dengan mengoptimalkan apa yang ada dalam dirinya.
Dalam penuturannya, beliau menganalogikan perbedaan antara petani Indonesia dengan petani China. Seperti apakah itu..?
Sungguh perbedaan yang sangat bertolakbelakang. Meskipun tak semua seperti itu.
Lalu, bagaimana mengembangkan diri menjadi seorang yang unggul?
Berawal dari mengenali diri sendiri dan mengetahui hobi kita. Oleh karena itu, untuk mengembangkannya kita harus dekat dengan lingkungan dan perlu dorongan dari luar. Salah satunya adalah peran orang tua dan guru. Kedua pihak ini harus bisa menjadi sahabat, terutama bagi anak yang berusia 15-21.
Pada usia 1-7 tahun merupakan masa bermain anak. 8-14 tahun usia keemasan belajar. Saat menginjak 22-27 tahun, sudah masanya untuk bekerja. Sedangkan 28 ke atas waktunya menikah dan menyelami kehidupan yang baru.
Di saat lingkungan telah mendukung, sebagai makhluk sosial, kita harus bisa bersilaturahmi dengan dunia luar. Tidak asal-asalan lho... Kita harus mempunyai visi, networking, dan sense of art.
Di samping itu, modal lain yang harus diutamakan adalah keuletan dan kejujuran. Masih ingat dengan perbedaan antara Petani Cina dan Indonesia? Meski sama-sama ulet, namun keduanya berbeda visi. Sehingga hasil akhirnya pun berbeda pula.
Setiap kehidupan dan pilihan pasti berisiko. Oleh karena itu, selain memiliki karakter yang telah diterangkan di atas, kita juga harus peka terhadap keadaan dan kondisi sekitar. Tak hanya itu, hati kita jangan pernah lepas dari Allah dan harus selalu berserah diri alias tawakal.
Bisakah kita seperti itu? Mari belajar dari sekarang. Tidak ada kata terlambat untuk berubah lebih baik. Be a good agent of change our country!
|
| |
|
|
|
|
|
|
Kamis, 2009 Juni 25
Ini hari ke-4 aku 'dipingit' di University Hotel Sunan Kalijaga.
Bertahan dan terus memacu semangat sebagai peran sang agen perubahan!
Sabtu, 2009 Juni 20
Riset menjadi salah satu pendidikan yang harus dimiliki oleh pelajar. LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang notabene bertugas untuk mencari dan menemukan para peneliti muda, sang agen perubahan masa depan.
Dalam bentuk kegiatan PIRN atau Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional, kini telah terlaksana hingga PIRN ke-VIII yang bertempat di Yogyakarta, tepatnya di University Hotel Sunan Kalijaga. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada 21-28 Juni 2009.
Dua Siswa Tasikmalaya Diundang Khusus
Adalah Siti Awaliyati Deliabilda dan Ilham Azmy, dua siswa SMA Al Muttaqin yang ditunjuk LIPI untuk pengikuti PIRN VIII. Penyeleksian kedua siswa tersebut dilaksanakan oleh pihak sekolah dengan membuat daftar riwayat hidup. Daftar riwayat hidup tersebut berisi mulai dari visi dan misi belajar, daftar prestasi, pengalaman berorganisasi, hingga karya yang pernah dimuat dan dibuat.
Pada Jumat, 19 Juni, sesaat sebelum ke Yogyakarta, mereka berdua melakukan hearing dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Bapak Endang Suherman, M.Pd. Beliau sangat antusias terhadap acara ini.
Delia dan Ilham telah menyiapkan sebanyak empat tema yang akan didiskusikan bersama ratusan teman lain, yakni :
1. Hilangnya Bukit di Tasikmalaya
2. Situ Gede sebagai PLTA
3. Pesantren Berbasis Sekolah
4. Pemanfaatan TPA Purbaratu
to be continuou...
Minggu, 2009 Juni 14
Our Paper
Technology Innovation of Sixth Sense Device
Introductory
As we know that everybody have five senses. Those are sense of touch, sense of sight, sense of hearing, sense of taste, and sense of smell. All of them help us to feeling, looking, hearing, tasting, and smelling. But, here will be introduced the sixth sense.
Based on our observation, some people have the sixth sense. Although the meaning of sixth sense is haven’t clear, every people have different thinking. Some people said that the sixth sense is something that can help us to examine something. Some of them said that it’s helped by devils. Other people said that sixth sense is feeling that joined the five senses.
As a developing of technology, long time ago some students of MIT who work in TED has done the research and create a device which is called Sixth Sense Technology. They show us that the sixth sense is visible and touchable, Sixth Sense Technology.
The principle of Sixth Sense Technology is the capability of collected data that going to suit to merge with the physical sense in a real physical world. It is developed a wearable from computing system that it turns to any surface of an interactive display screen. The user can summon virtual gadgets and internet data as willing part, then close them like smoke when they’re done.
Beside that, it gives much information that helps us to understand and respond to the world from these senses. But, that’s come from computer and internet that become a set of Sixth Sense Technology.
Limitation Problem
The principal of Sixth Sense Technology is optimality all sense in the human. That’s merging between physical sense with the system of computer and internet. To specification the mastery, we limitation the problem become some mastery, those are:
1. The Sixth Sense Technology;
2. The Devices;
3. Sense of Touch;
4. Sense of Sight;
5. Sense of Hear, Taste, and Smell;
6. The Excellences
The problem will be exposed in every chapter.
The Mean of Sixth Sense Technology
Sixth sense is a tool that connects the physical world with the world data. This tool is made by a group of MIT students who work in the TED Company. Pranav Mistry is a MIT grad student in the back of the Sixth Sense, he and advisers in the MIT Media Lab, Pattie Maes, unveiled at TED2009 Sixth Sense, Sixth Sense and demo premiered yesterday in TED.com - and places in both city people's imaginations are fired.
Students in the MIT Media Lab have developed a computing system that every surface can be changed into an interactive display screen. The user can call the virtual data gadgets and other internet, and then extrude them like smoke when they are finished.
In that uses, you only use the device around his neck on the screen, and colored Magic Marker caps four fingers (red, blue, green and yellow) helps to distinguish the four camera finger and hand gestures to identify Mistry with software that is made. Gestures as simple as using the fingers and thumb to make picture frame that tells the camera to snap photos, which will be saved to the phone.
The Devices
The devices that is used by the Sixth Sense device, there are hardware and software. Parts of hardware are small camera that have function same with the eye. Otherwise, it is the connecting user to digital world information. The second is projector. The function of that tool is to do projection in the one aspect, such as in the wall, body, or the other place.
The sixth sense is completed with a mirror to help projector to project a picture in the wall. The user must use colored caps; those are red, blue, green, and yellow. It helped the camera distinguish the four fingers and recognize his hand gestures with software that created. It needs a phone that collects and transmits the data.
What about software? The software works on the basis of computer vision. The creator had to write a lot of algorithms from scratch here, those are about 50,000 lines of code had they wrote.
The software recognizes 3 kinds of gestures:
1. Multitouch gestures, like the ones you see in Microsoft Surface or the iPhone, where you touch the screen and make the map move by pinching and dragging.
2. Freehand gestures, like when you take a picture.
3. Iconic gestures, drawing an icon in the air. Like, whenever I draw a star, show me the weather. When I draw a magnifying glass, show me the map.
|
| |
|
|
|
In the six senses, the senses of touch are most important. Feeler senses into duty, to control equipment from the six senses itself with the touch. Examples are, if you need to know what time, from as simple as drawing a watch on the arm, while you can use his right finger to draw a circle on the left wrist.
Our finger on the Magic Marker caps there are four fingers (red, blue, green and yellow), which helps the camera to distinguish the four fingers and hand gestures to identify you with software that is made.
Gestures as simple as using the fingers and thumb to make picture frame that tells the camera to snap photos, which will be saved to the phone. When he got back to the office, he projects the image to a wall and starts their size.
Sense of Sight
Previously at MIT, much research has been conducted with the glasses - even going on the research to place the information in the contact lens. This project has important aspect, the creator want this case to join the physical world in which real physical meaning. The user touches the objects and the projection information for the object. The information will look like this is part of the object.
In addition, the projector that opens up the interaction and sharing. Then, made as looking senses through contact lens projector that is connected with the software, but still many weaknesses, and then created third eye camera that is small and mini-projectors to help capture images.
Sense of Hear, Taste, and Smell
For the senses of hearing made headset to make communication and listening to music.
Senses taste and smell in the six senses is not many have an important role. However, it still has a role in determining a certain object. For example, the software can give information to user that the nutrition of food is good or bad and feel the smell of food.
The Excellences
Many the excellences of Sixth Sense Technology. Which costs less than $ 350, enables users to project information from the phone to any surface - walls, the body of another person or even your hands.
If the user needs to know what time, from as simple as drawing a watch on the arm used his right finger to draw a circle on the left wrist.
If he wanted to read e-mail on the phone, he took an @ symbol in the air with a finger. He can project it onto the phone pad and the palm called the phone number without removing the phone from the pocket. Because he read the newspaper on the subway he can project the video to a page that provides more information about a topic that he read.
Beside that, when the user both hands in "Namaste" mode, the system will open a menu to allow him to select an application. They also have a ring that is used for infrared communication by beacon to supermarket shelves smart to provide information about the product. As you take the package macaroni, a ring will be shining a red or green to notify you if the product is organic or free from nut traces - what are the criteria which the system program.
When the user expose the idea to access the information from the internet and the projection, so someone wearing a wristband may take a paperback book in the store and immediately call the reviews about books, their projections to the surface in a store or do a search through the keyword books digitized by the pages at Amazon or Google books.
Summary
Sixth Sense Technology a like a magic, as same as we have Doraemon. The system of tool is merging device between phone cell and video as well as physical senses with computer and internet system. But, the device working is almost same with the fifth sense in our body.
Creating of Sixth Sense Technology are the students of MIT (Massachusetts Institute of Technology) in United State that work in TED Company.
The devices of that are hardware and software. The hardware are camera, projector, mirror, and color caps. And the software is same with computer’s programs that use about 50,000 line of logarithm.
The sense of touch is the most important organ. The user use colored caps or Magic Marker caps to display the data. The sense of sight has function to see the visual data. That is use mirror and projector. Different with sense of touch and sight, sense of hear, taste, and smell is rare to used.
The excellences of sixth sense technology are not too expensive, just about $350. Beside that, it just need an aspect as background, we can watch video when read a newspaper, zoom in or zoom out the photo without touch, and open an internet in your hand.
It can be concluded the progress that. The devices are developing technology that uses even more sophisticated and modern. Indonesia is still behind in this, and we as a generation of students and we should be able to compete with foreign students and technology.
Rabu, 2009 Mei 13
diam
untuk diam
untuk ke puncak buih-buih yang berevolusi
yang perihkan hawa-hawa
terus membakar
terus menjalar
terus meruang
terus menghampakan
terus membunuh
terus menarikan nyanyian amarah
terus melebur
terus mengabu
terus ...
terus ...
terus ...
sampai hidup bukan lagi untuk hidup
sampai hidup adalah untuk mencari mati
sampai hidup adalah ketakutan yang mendasar
sampai hidup adalah untuk dihindari
sampai hidup tak lagi berpenghunii!!!
>> aku pun tak mengerti apa arti ini
silakan jawab saja sendiri
n.n
Labkomp
5.37 pm
13th May 2009
Rabu, 2009 April 29
Menyatu dalam PLASA 2009
Acara ini diselenggarakan sejak Selasa sore hingga Jumat siang. Diikuti oleh sekira 125 siswa SMA Al Izhar, kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual, emosional, intelektual, dan mendalami serta berinteraksi dengan masyarakat.
Terpusat dalam tiga lokasi, yakni Kampung Naga, Gunung Galunggung, dan Jayamukti, peserta PLASA (siswa SMA Al Izhar dan siswa SMA Al Muttaqin-red) dibagi dalam beberapa kelompok dan mereka diharuskan untuk meneliti hal-hal yang berkaitan dengan tema pilihan. Masing-masing kelompok memiliki pembimbing yang berasal dari guru SMA Al Izhar.
Seperti apa aktivitas selama PLASA berlangsung??
>> Hari ke-1
Lokasi : Rumah Pak H. Engkud
Aktivitas : Pertemuan SMA Al Muttaqin dengan SMA Al Izhar, Pengenalan dan Pembuatan Kelom Geulis dan Payung Geulis, Makan Bakso

Antri ngebakso niy...

Orang-orang cantik sedang melukis n.n

Ibu Yoyoh, asli Tasikmalaya jago banget ngelukis di atas payung.
Zreettt.. Zreettt.. Zreettt... Selesai dahhh...
(pengen tau aktivitas selanjutnya..?? Tunggu iia.. Lagi looking for dulu foto" bagus..)
Jumat, 2009 April 17
Bimasakti Ternyata Semakin Ramping
Ditulis oleh ivie pada 5/30/08 • Kategori Galaksi •

Peneliti dari SDSS menggunakan data gerak bintang jauh untuk menentukan massa Bimasakti. Kredit Gambar : SDSS
Menurut Xiangxiang Xue dari National Astronomical Observatories of China yang memimpin tim internasional dalam penelitian ini, galaksi jauh lebih ramping dari yang diduga. Artinya terdapat lebih sedikit materi kelam dari yang diyakini sebelumnya, dan tampaknya Bimasakti jauh lebih efisien dam mengubah persediaan hidrogen dan heliumnya jadi bintang.
Penemuan Xue tersebut didasarkan pada data SEGUE (Sloan Extension for Galactic Understanding and Exploration), survey bintang di Bimasakti yang merupakan satu di antara 3 program milik SDSS-II. Dengan menggunakan pengukuran SEGUE terhadap kecepatan bintang di bagian terluar Bimasakti, pada area yang disebut halo bintang, para peneliti menentukan massa galaksi dari jumlah gravitasi yang dibutuhkan untuk membuat bintang tetap stabil pada orbitnya. Sebagian gravitasi berasal dari bintang di Bimasakti namun sebagian besar garvitasi justru berasal dari distribusi materi kelam.
Untuk melacak distribusi massa galaksi, team SEGUE menggunakan contoh dari 2400 bintang yang ada pada cabang horisontal biru (”blue horizontal branch”). Bintang di cabang tersebut bisa diketahui jaraknya dari kecerlangannya. Bintang pada cabang horisontal biru bisa terlihat pada jarang yang sangat jauh sehingga memungkinkan tim ini mengukur kecepatan bintang sampai dengan jarak 180000 tahun cahaya dari Matahari.
Hasil penelitian massa Bimasakti yang ada sebelumnya menggunakan beragam contoh dari 50 - 500 objek, dan ditemukan total massa galaksi Bimasakti mencapai 2 triliun massa Matahari. Berbeda dari hasil sebelumnya, penelitian dengan menggunakan pengukuran SDSS-II sampai jarak 180000 tahun cahaya justru mengkoreksi total massanya yakni berkurang sampai di bawah 1 triliun massa Matahari. Ukuran SEGUE yang besar memberi keuntungan, karena bisa dipilih set pelacak yang seragam dan sejumlah besar bintang yang ada bisa dipakai untuk mengkalibrasi metode yang digunakan dengan hasil simulasi.
Menurut kolaborator Timothy Beers dari Michigan State University, memang tidak mudah untuk menentukan massa total galaksi karena kita berada di dalam galaksi itu sendiri. Namun kita bisa mengetahuinya dari data yang ada jika kita ingin mengetahui dan memahami Bimasakti dan kemudian kita bisa membandingkannya dengan galaksi jauh yang bisa kita lihat dari luar.
Sumber : SDSS
100 Jam Astronomi di Langit Selatan
Ditulis oleh ivie pada 4/01/09 • Kategori IYA2009, Komunitas •
Untuk ikut serta dalam acara penjangkauan masyarakat secara global dalam 100 Jam Astronomi, Indonesia juga turut ambil bagian untuk berbagi informasi dan pengetahuan astronomi lewat berbagai acara. Klub astronomi yang ada di Indonesia juga turut serta untuk melaksanakan acara tersebut. Di Jakarta, HAAJ, Kastro Sirius, Kastro Polaris dan FOSCA turut serta mengadakan berbagai acara untuk 100 jam astronomi. Dari Bandung langitselatan dan CAKRAWALA UPI juga turut serta mengadakan acara 100 Jam Astronomi di beberapa lokasi.
Tak hanya Bandung dan Jakarta dari Aceh, Surakarta dan Jogjakarta, ada AAC, CASA dan JAC yang juga akan mengadakan kegiatan untuk berbagi astronomi kepada masyarakat. Yang menarik, AAC adalah klub astronomi yang baru terbentuk di Aceh bulan lalu.
Di Bandung, langitselatan akan memfokuskan diri untuk turut serta dalam rangkaian ISAN (International Sidewalk Astronomy Night) yang merupakan salah satu acara dalam “Star Party Global” yang akan diadakan pada tanggal 4 April 2009 setelah matahari terbenam. Langitselatan akan mengadakan acara pengamatan langit malam di PAA William Booth, Panti Asuhan Putri yang lokasinya berada di Jl. Jawa Bandung. Acara yang diberi tajuk “A 100 HA Night with Langitselatan” akan diadakan dari jam 6 sore sampai jam 8 malam, dengan acara diskusi astronomi, dongeng, pemutaran film singkat dan pengamatan langit malam yang akan dihiasi oleh Bulan dan juga Planet Saturnus.
Acara lainnya akan diadakan pada hari minggu oleh langitselatan di Cihampelas Walk Bandung sebagai bagian dari rangkaian acara “SUN Day”. Acara yang bertajuk “Astronomy SUN Day in Ciwalk” akan diisi oleh pengamatan matahari oleh masyarakat umum yang ada di lokasi tersebut.
Mantel ajaib

Mantel yang dapat membuat benda tidak terlihat sebentar lagi akan menjadi kenyataan, kata para ilmuwan di Inggris dan Amerika Serikat. Perubahan terhadap rincian struktural sub-panjang gelombang, bukan pada komposisi kimia dari material-material ini, akan membuat benda menghilang sebelum dapat dideteksi oleh mata, klaim tim peneliti ini.
Sir John Pendry, dari Imperial College London, telah merintis bidang meta-material, dimana nuansa-nuansa struktur, bukan sifat kimiawi, mengendalikan sifat-sifat benda. Untuk berinteraksi dengan cahaya dan menghasilkan sifat-sifat yang menurut Pendry “sulit atau tidak mungkin ditemukan di alam”, satu-satunya kondisi yang harus diberikan pada material adalah bahwa sifat-sifatnya harus lebih kecil dari panjang gelombang cahaya yang datang.
Material-material ini bisa dibuat dari kawat, yang bisa membawa arus, dan kumparan, yang membentuk medan magnet. “Tidak jadi masalah apakah kawat terbuat dari tembaga atau perak,” kata Pendry, “Anda tidak perlu berurusan dengan atom-atom. Yang perlu anda lakukan adalah meletakkan sebuah struktur disana yang lebih kecil dari cahaya.”
Pendry telah menunjukkan bahwa medan elektromagnetik bisa dialihkan di sekitar sebuah benda sesuai keinginan dengan merubah struktur sebuah material. Ini mendorong timnya merancang sebuah material penyelubung yang bisa merintangi aliran cahaya, mirip dengan air dalam arus yang dirintangi oleh sebuah hambatan sehingga aliran air berbelok arah; setelah jauh dari rintangan ini air yang mengalir menunjukkan tidak ada tanda-tanda bahwa air tadinya dibelokkan. Ketika gelombang-gelombang cahaya bergabung, objek yang telah merintanginya tidak bisa dilihat.
Pendry mengibaratkan alat penyelubung tersebut dengan sebuah fatamorgana di jalanan yang panas, dimana suhu yang terus berubah mengubah indeks refraktif udara di atas permukaan jalan tersebut sehingga menghasilkan munculnya citra aneh yang mirip langit. Dengan mengontrol proses ini, efek-efek optik bisa dihasilkan sehingga menyebabkan ketidaknampakan.
Tetapi ada pertentangan yang timbul dalam bidang metamaterial. Ulf Leonhardt di University of St Andrews, Inggris, mengklaim tidak mungkin membuat alat penyelubung yang bisa mencapai ketidaknampakan secara sempurna, “seseorang tidak akan pernah bisa bersembunyi secara sempurna dari gelombang,” kata dia.
Pendry tidak setuju. Dengan piranti spesifik panjang gelombang yang dia buat, cahaya dengan panjang gelombang tertentu bisa membuat sebuah objek tidak tampak secara sempurna. Sebuah penyelubung bisa membuat suatu benda tidak terlihat pada panjang gelombang merah, tetapi ketika cahaya bergeser ke panjang gelombang hijau dan biru, sebagian dari benda tersebut akan terlihat, kata dia, dengan menambahkan bahwa, dengan bantuan rekan-rekannya di Duke University, Amerika Serikat, material-material ini akan dibuat dalam waktu dekat.
Pendry mengatakan bahwa untuk menghasilkan material penyelubung yang diharapkan, yang menggunakan panjang gelombang panjang sekitar 3cm, suatu generasi material baru diperlukan. “Ini sekarang menjadi penting. Kami telah memiliki segala sesuatu yang kami ketahui yang bisa kami lakukan jika konsep kimia ini benar,” ungkapnya ke Chemistry World. Dia berharap agar logam-logam dan aloy-aloy baru akan dibuat dan digunakan pada benda-benda penyelubung tidak hanya untuk digunakan dalam militer, tetapi juga pada hal-hal seperti penyelubungan sebuah benda dalam peranti radar pengontrol lalu lintas udara.
Disadur dari: http://www.rsc.org/chemistryworld/
Rabu, 2009 April 15
Hari ini menjadi hari yang mendebarkan bagi ribuan calon ilmuwan dan pemimpin dunia. Adalah siswa SMA dan sederajat se-Jawa Barat bertarung dengan pelbagai jenis soal untuk bisa melanjutkan ke pertarungan-pertarungan berikutnya.
Sebagai salah satu sekolah Islam yang menanamkan karakter kompetitif dan berani bersaing dengan dunia global, SMA Al Muttaqin Tasikmalaya mengirimkan sebanyak 33 mujahid-mujahidahnya (Amin) untuk menaklukkan rintangan akademik yang terbagi ke dalam delapan mata lomba yang diolimpiadekan.
Bertempat di MA Persis Benda, sebanyak 592 (termasuk dengan SMA Al Muttaqin) memperebutkan 40 tiket menuju ke ingkat Jawa Barat yang rencananya akan diselenggarakan pertengahan Mei nanti.
Acara dibuka oleh Bapak Endang Suherman, Kadisdik Kota Tasikmalaya. Dalam sambutannya beliau memberikan petuah kepada seluruh siswa.
Adapun poin-poin yang beliau sampaikan :
a. Tanamkan nilai religius
b. Tanamkan rasa percaya diri
c. Fastabiqul Khairat
d. Mampu menguasai Bahasa Asing
e. Mampu menguasai teknologi informatika
f. Mempunyai kecakapan hidup (life skill)
Kita-kah pelajar yang memiliki kriteria tersebut?
Saya 'mengambil' cuplikan dari lagu Mestakung (Semesta Alam Mendukung)-nya Yohannes Surya,
Mestakung
Semesta Alam Mendukung
Pantang Berkata Menyerah
Pantang Bicara Tak Mampu
Tasikmalaya, 15 April 2009
Calon Astronom 2014
Minggu, 2009 April 05
Born: 28-Oct-1956
Birthplace: Garmsar, Iran
Gender: Male
Religion: Shia Muslim
Race or Ethnicity: Middle Eastern
Sexual orientation: Straight
Occupation: Head of State
Nationality: Iran
Executive summary: President of Iran
Hardcore religious conservative and Islamist. Contrary to earlier reports (likely propaganda), he was not involved in the taking of American hostages in 1979. He was elected President of Iran in the runoff elections in 2005, defeating Akbar Hashemi Rafsanjani with 61.7% of the vote, though Rafsanjani was leading in the first vote, with Ahmadinejad earning only 19.5% of the vote. Many other candidates were disqualified by Iran's religious ruling class, the "Council of Guardians".
At a Teheran conference The World without Zionism, 28 October 2005, Ahmadinejad stated that "the Israeli regime must be wiped off the map" (a statement originally translated by the state news service, and thus disseminated to the West, as referring to Israel itself, despite clarification by Iran's foreign minister), further stating that a "historic war between the oppressor and the world of Islam" would occur in Palestine. Later that same day, at a gathering of students, he called for "the annihilation of the Zionist regime." This viewpoint, in conjunction with Iran's nuclear weapons development program, has alarmed many observers, including some in the US Congress who have called for Iran's expulsion from the United Nations. The UN Security Council has unanimously condemned the remarks.
Father: Ahmad (blacksmith)
Mother: Seiyed Khanom
University: Civil Engineering, Iran University of Science and Technology
University: MSc Civil Engineering, Iran University of Science and Technology
University: PhD Transportation Engineering, Iran University of Science and Technology
Professor: Iran University of Science and Technology
President of Iran (3-Aug-2005 to present)
Iranian Mayor Tehran (2003-05)

Nama :
Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
Lahir :
Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949
Agama :
Islam
Istri :
Kristiani Herawati,
putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo
Anak :
Agus Harimurti Yudhoyono dan
Edhie Baskoro Yudhoyono
Pangkat terakhir :
Jenderal TNI (25 September 2000)
Pendidikan:
= Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
= American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
= Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
= Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
= On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
= Jungle Warfare School, Panama, 1983
= Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984
= Kursus Komando Batalyon, 1985
= Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
= Command and General Staff College, Fort = Leavenwort,Kansas, AS
Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
Karier:
- Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
- Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
- Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
- Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
- Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
- Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
- Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
- Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
- Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
- Dosen Seskoad (1989-1992)
- Korspri Pangab (1993)
- Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
- Asops Kodam Jaya (1994-1995)
- Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
- Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
- Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
- Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
- Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
- Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
- Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
- Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
- Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri) mengundurkan diri 11 Maret 2004
Penugasan:
Operasi Timor Timur (1979-1980), dan 1986-1988
Penghargaan:
- Adi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
- Honorour Graduated IOAC, USA, 1983
- Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003.
Alamat :
Jl. Alternatif Cibubur Puri Cikeas Indah
No. 2 Desa Nagrag Kec. Gunung Putri Bogor-16967

Presiden RI Pertama Pilihan Rakyat
Ini dia Presiden Republik Indonesia pertama hasil pilihan rakyat secara langsung. Lulusan terbaik Akabri (1973) yang akrab disapa SBY dan dijuluki 'Jenderal yang Berpikir', ini berenampilan tenang, berwibawa serta bertutur kata bermakna dan sistematis. Dia menyerap aspirasi dan suara hati nurani rakyat yang menginginkan perubahan yang menjadi kunci kemenangannya dalam Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004.
Berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden, paduan dwitunggal ini menawarkan program memberikan rasa aman, adil dan sejahtera kepada rakyat. Pasangan ini meraih suara mayoritas rakyat Indonesia (hitungan sementara 61 persen), mengungguli pasangan Megawati Soekarnoputri - KH Hasyim Muzadi.
Popularitas dengan enampilan yang tenang dan berwibawa serta tutur kata yang bermakna dan sistematis telah mengantarkan SBY pada posisi puncak kepemimpinan nasional. Penampilan publiknya mulai menonjol sejak menjabat Kepala Staf Teritorial ABRI (1998-1999) dan semakin berkibar saat menjabat Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid) dan Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri).
Ketika reformasi mulai bergulir, SBY masih menjabat Kaster ABRI. Pada awal reformasi itu, TNI dihujat habis-habisan. Pada saat itu, sosok SBY semakin menonjol sebagai seorang Jenderal yang Berpikir. Ia memahami pikiran yang berkembang di masyarakat dan tidak membela secara buta institusinya. "Penghujatan terhadap TNI itu menurut saya tak lepas dari format politik Orde Baru dan peran ABRI waktu itu," katanya. Maka, Tokoh Indonesia DotCom menjulukinya sebagai 'mutiara di atas lumpur'.
Banyak orang mulai tertarik pada sosok militer yang satu ini. Pada saat institusi TNI dan oknum-oknum militernya dibenci dan dihujat, sosok SBY malah mencuat bagai butiran permata di atas lumpur. (Hampir sama dengan pengalaman Jenderal Soeharto, ketika enam jenderal TNI diculik dalam peristiwa G-30-S/PKI, 'the smiling jeneral' itu berhasil tampil sebagai 'penyelamat negeri' dan memimpin republik selama 32 tahun. Sayang, kemudian jenderal berbintang lima ini terjebak dalam budaya feodalistik dan kepemimpinan militeristik. Pengalaman Pak Harto ini, tentulah berguna sebagai guru yang terbaik bagi pemimpin nasional negeri ini).
Lulusan Terbaik
Siapakah Susilo Bambang Yudhoyono yang berhasil meraih pilihan suara hati nurani rakyat pada era reformasi dan demokratisasi itu?
Pensiunan jenderal berbintang empat berwajah tampan dan cerdas, ini adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotji dan Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya R. Soekotji yang pensiun sebagai Letnan Satu (Peltu). Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas, mendorongnya menjadi seorang penganut agama Islam yang taat. Dalam dirinya pun mengalir kental jiwa militer yang relijius.
Selain itu, lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) angkatan 1973, ini juga memiliki garis darah biru, sebagai keturunan bangsawan Jawa yang mengalir dari dua arah dan berujung pada Majapahit dan Sultan Hamengkubuwono II. Kakeknya dari pihak ayah, bernama R. Imam Badjuri, adalah anak dari hasil pernikahan Kasanpuro (Naib Arjosari II - darah biru Majapahit) dan RM Kustilah ( sebagai turunan kelima trah Sultan Hamengkubuwono II bernama asli RA Srenggono). Bahkan dalam silsilah lengkapnya, SBY juga memiliki garis keturunan dari Pakubuwono.
Kendati SBY anak tunggal, dia hidup dengan prihatin dan kerja keras. Pada saat sekolah di Sekolah Rakyat Gajahmada (sekarang SDN Baleharjo I), SBY tinggal bersama pamannya, Sasto Suyitno, ketika itu Lurah Desa Ploso, Pacitan. Prestasinya saat SR sudah menonjol.
Dalam proses pengasuhan yang berdisiplin keras, pada masa kecil dan remajanya, SBY juga mengasah dan menyalurkan bakat sebagai penulis puisi, cerpen, pemain teater dan pemain band.
Pria tegap yang memiliki tinggi badan sekitar 175 cm, kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 9 September 1949, ini senang mengikuti kegiatan kesenian seperti melukis, bermain peran dalam teater dan wayang orang. Beberapa karya puisi dan cerpennya sempat dikirimkan ke majalah anak-anak waktu itu, misalnya ke Majalah Kuncung. Sedangkan aktivitas bermain band masih dilaksanakan hingga tingkat satu Akabri Darat sebagai pemegang bas gitar. Sesekali masih juga menulis puisi.
Di samping kesenian, ia juga menyukai dunia olah raga seperti bola voli, ia senang travelling, baik jalan kaki, bersepeda atau berkendaraan. Sedangkan olah raga bela diri hingga saat ini masih aktif dilakukan.
Tekadnya menjadi prajurit mengental saat kelas V SR (1961) berkunjung ke AMN di kampus Lembah Tidar Magelang.
"Saya tertarik dengan kegagahan sosok-sosok taruna AMN yang berjalan dan berbaris dengan tegap waktu itu. Ketika rombongan wisata singgah ke Yogyakarta, saya sempatkan membeli pedang, karena dalam bayangan saya, tentara itu membawa pedang dan senjata," kenang SBY.
Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras, SBY berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir tahun 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak langsung masuk Akabri. Maka dia pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS).
Namun kemudian, SBY malah memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Selagi belajar di PGSLP Malang itu, ia pun mempersiapkan diri untuk masuk Akabri.
Tahun 1970, dia pun masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung. SBY satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan, SBY yang mendapat julukan Jerapah, sangat menonjol. Terbukti, dia meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya.
Saat menempuh pendidikan di Akademi Militer, itu, SBY berkenalan dengan Kristiani Herrawati, putri Sarwo Edhie. Saat itu, Mayjen Sarwo Edhi Wibowo, menjabat Gubernur Akabri. Perkenalan terjadi saat SBY menjabat sebagai Komandan Divisi Korps Taruna.
Perkenalan itu berlanjut dengan berpacaran, bertunangan dan pernikahan. Mereka dikarunia dua orang putra Agus Harimurti Yudhoyono (mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi).
Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster University AS.
Karir Militer
Dalam meniti karir, SBY sangat mengidolakan Sarwo Edhi yang tidak lain adalah bapak mertuanya sendiri. Dalam pandangannya, Sarwo Edhi adalah seorang prajurit sejati. Jiwa dan logika kemiliterannya amat kuat. Selain belajar strategi, taktik, dan kepemimpinan militer, mertuanya itu amat sederhana dalam hidup dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip yang diyakini.
Perjalanan karier militernya, dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung sekitar 30 prajurit.
Batalyon Linud 330 merupakan salah satu dari tiga batalyon di Brigade Infantri Lintas Udara 17 Kujang I/Kostrad, yang memiliki nama harum dalam berbagai operasi militer. Ketiga batalyon itu ialah Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Batalyon Infantri Lintas Udara 328/Dirgahayu, dan Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak.
SBY, sebagai komandan peleton, giat berlatih bersama anak buahnya sehingga peletonnya sering kali menjadi andalan bagi Kompi A dalam setiap kegiatan latihan bersama kompi-kompi lainnya di tingkat batalyon. Selain itu, ia juga mendapat tugas tambahan memberi les pengetahuan umum dan bahasa Inggris bagi semua anggota batalyon.
Kefasihan berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara (airborne) dan pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan Darat Amerika Serikat, Ford Benning, Georgia, 1975.
Kemudian sekembali ke tanah air, ia memangku jabatan Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad) tahun 1976-1977. Dia pun memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur.
Sepulang dari Timor Timur, ia menjadi Komandan Peleton Mortir 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977). Setelah itu, ia ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban Muda Sops SUAD (1981-1982).
Ketika bertugas di Mabes TNI-AD, itu SBY kembali mendapat kesempatan sekolah ke Amerika Serikat. Dari tahun 1982 hingga 1983, ia mengikuti Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983 sekaligus praktek kerja-On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983. Kemudian mengikuti Jungle Warfare School, Panama, 1983 dan Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984, serta Kursus Komando Batalyon, 1985. Pada saat bersamaan dia menjabat Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
Lalu dia dipercaya menjabat Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988) dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988), sebelum mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad) di Bandung dan keluar sebagai lulusan terbaik Seskoad 1989.
Dia pun sempat menjadi Dosen Seskoad (1989-1992), dan ditempatkan di Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad) dengan tugas antara lain membuat naskah pidato KSAD Jenderal Edi Sudradjat. Lalu ketika Edi Sudradjat menjabat Panglima ABRI, ia ditarik ke Mabes ABRI untuk menjadi Koordinator Staf Pribadi (Korspri) Pangab Jenderal Edi Sudradjat (1993).
Lalu, dia kembali bertugas di satuan tempur, diangkat menjadi Komandan Brigade Infantri Lintas Udara (Dan Brigif Linud) 17 Kujang I/Kostrad (1993-1994) bersama dengan Letkol Riyamizard Ryacudu. Kemudian menjabat Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995).
Tak lama kemudian, dia dipercaya bertugas ke Bosnia Herzegovina untuk menjadi perwira PBB (1995). Ia menjabat sebagai Kepala Pengamat Militer PBB (Chief Military Observer United Nation Protection Force) yang bertugas mengawasi genjatan senjata di bekas negara Yugoslavia berdasarkan kesepakatan Dayton, AS antara Serbia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina.
Setelah kembali dari Bosnia, ia diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (1996), hanya sekitar lima bulan. Saat itu Pangdam Jaya dijabat Mayjen TNI Sutiyoso, yang menggantikan Mayjen TNI Wiranto yang diangkat menjadi Panglima Kostrad. Pada saat menjabat sebagai Kasdam Jaya, terjadi peristiwa 27 Juli 1996, yang menyeret namanya menjadi salah seorang saksi dalam pengungkapan kasus tersebut.
Kemudian dia menjabat Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda dan Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998) sebelum menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI (1998-1999). Penampilan publiknya mulai menonjol saat menjabat Kepala Staf Teritorial ABRI tersebut.
Pada masa menjabat Kaster ABRI ini reformasi mulai bergulir. TNI dihujat habis-habisan. Pada saat itu, sosok SBY semakin menonjol sebagai seorang Jenderal yang Berpikir. Ia memahami pikiran yang berkembang di masyarakat dan tidak membela secara buta institusinya. Dia pun berperan banyak dalam upaya mereposisi peran TNI (ABRI). Rafermasi TNI dimulai pada masa ini.
Karir Politik
Sementara, langkah karir politiknya dimulai tanggal 27 Januari 2000, saat memutuskan untuk pensiun lebih dini dari militer ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Ketika itu ia masih berpangkat letnan jenderal dan akhirnya pensiun dengan pangkat jenderal kehormatan.
Tak lama kemudian, SBY pun terpaksa meninggalkan posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur memintanya menjabat Menkopolsoskam untuk menggantikan Jenderal Wiranto yang terpaksa mengundurkan diri sebagai Menkopolsoskam.
Popularitasnya semakin berkibar saat menjabat Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid) dan Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Sukarnopotri).
Tugas terberatnya sebagai Menko Polkam adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat dan dunia bahwa keamanan di Indonesia dapat diwujudkan. Faktor keamanan inilah yang sering dijadikan investor asing untuk membatalkan rencana investasinya di Indonesia. Sedangkan dari dalam negeri, masyarakat sering kali merasa was-was dengan berbagai gangguan seperti teror bom yang kerap terjadi.
Persoalan lainnya adalah, upaya menghentikan pertikaian di daerah konflik, yang secara perlahan memperlihatkan kemajuan. Namun, karena besarnya masalah yang dihadapi, keberhasilan tugasnya itu sering tidak ditanggapi serius. Masih banyak pekerjaan besar menunggu untuk segera diselesaikan.
Menghadapi tugas berat, ternyata menjadi bagian sejarah hidup SBY yang sebelum menjadi menteri sempat diprediksi bakal menjadi orang nomor satu di lingkungan militer. Ketika Presiden KH Abdurrahman Wahid berkuasa, ia sempat diberi tugas untuk melobi keluarga mantan Presiden Soeharto. Maksud langkah persuasif yang dilakukannya itu agar keluarga cendana bersedia memberikan sebagian hartanya kepada rakyat dan bangsa. Khususnya untuk membawa pulang harta keluarga Soeharto yang diperkirakan masih tersimpan di luar negeri. Padahal saat itu masyarakat tengah menunggu dengan seksama hasil peradilan orang kuat Orde Baru tersebut.
Presiden Wahid pada awal tahun 2001 pernah memintanya untuk membentuk Crisis Centre. Dalam lembaga nonstruktural ini Presiden Wahid meminta Yudhoyono menjabat sebagai Ketua Harian dan menempatkan pusat informasi atau kegiatan (operation centre) di kantor Menko Polsoskam. Lembaga baru ini berfungsi untuk memberikan rekomendasi kepada Presiden Wahid dalam menjawab berbagai persoalan. Termasuk di antaranya sikap Kepala Negara dalam merespon pemberian dua memorandum oleh DPR.
Kisah ketika dia menjabat Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid) mengukir kisah tersendiri.
Walau berulang kali menerima kepercayaan bukan berarti Yudhoyono ‘lembek’ dalam menghadapi Presiden Wahid. Ketika terdengar kabar Presiden Wahid ngotot akan menerbitkan dekrit pembubaran DPR, maka, bersama Panglima TNI Laksamana Widodo AS dan jajaran petinggi TNI lainnya, ia meminta Gus Dur mengurungkan niatnya.
Puncaknya, pada 28 Mei 2001, bersama beberapa menteri tidak merekomendasikan rencana Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Dekrit Presiden. Bahkan tidak bersedia melaksanakan Maklumat Presiden yang menugaskannya sebagai Menkopolsoskam untuk mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mengatasi krisis, memelihara keamanan, ketertiban dan hukum.
Akibatnya ia diberhentikan dengan hormat dari jabatan Menkopolsoskam pada 1 Juni 2001, kerena menolak rencana Presiden mengeluarkan Dekrit. Ketika ia ditawari jabatan Menteri Perhubungan atau Menteri Dalam Negeri namun ditolaknya.
Lalu pada Sidang Istimewa MPR-RI, 25 Juli 2001, ia dicalonkan memperebutkan jabatan Wakil Presiden yang lowong setelah Megawati Soekarnoputri dipilih menjadi presiden. Ia bersaing dengan Hamzah Haz dan Akbar Tandjung.
Pada 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantiknya menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Dia pun tampak menjalankan tugasnya dengan baik. Salah satu pelaksanaan tugasnya adalah mengumumkan pemberlakuan status darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 19 Mei 2003, serta proses penyelesaian konflik Ambon dan Poso.
Hal itu sangat menguntungkan SBY yang sudah berancang-ancang untuk merebut kursi presiden. Kemudian popularitasnya makin memuncak. Pertama kali dia masuk bursa calon presiden, ketika Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia menimangnya menjadi salah satu kandidat calon presiden dan wakil presiden. Kemudian, Partai Demokrat yang dibidani dan didirikan bersama beberapa koleganya menyebutnya sebagai calon presiden, bukan calon wakil presiden.
Lalu iklan damainya muncul di berbagai stasiun televisi. Ia pun menjawab pertanyaan wartawan yang menanyakan soal tidak dilibatkannya dia dalam beberapa kegiatan kabinet yang menyangkut masalah politik dan keamanan. Lalu, suami Presiden Megawati, Taufik Kiemas menyebutnya kekanak-kanakan karena dinilai melapor kepada wartawan bukan kepada presiden (1/3/2004). Ia pun beruntung karena pers dan beberapa pengamat membangun opini bahwa ia sedang ditindas oleh Taufik Kiemas, suami Megawati.
Dalam pada itu, dua kali rapat kordinasi bidang Polkam batal dilakukan karena ketidakhadiran para menteri terkait. Tampaknya para menteri terkait tak lagi mempercayai dan menurutinya. Lalu pada 9 Maret 2004, dia pun menyurati Presiden Megawati mempertanyakan kewenangannya sekaligus minta waktu bertemu. Namun, Presiden tidak menjawab surat itu. Mensesneg Bambang Kusowo kepada pers mengatakan tidak seharusnya seorang menteri (pembantu presiden) mesti membuat surat meminta bertemu dengan presiden. Dia pun diundang mengahadiri rapat menteri terbatas. Tapi ia tidak datang.
Ia merasa suratnya tak ditanggapi. Lalu pada 11 Maret 2004, ia memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam karena merasa kewenangannya sebagai Menko Polkam telah diambil-alih oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada situasi itu, M. Jusuf Kalla, yang menjabat Menko Kesra, menemuinya. Lalu, malam harinya, di sebuah hotel, ia bertemu Abdurrahman Wahid yang diisukan sudah sejak beberapa waktu menimangnya menjadi calon presiden dari PKB.
Jenderal yang simpatik, tampan, mudah senyum dan memikat banyak perempuan ini, ketika mengumumkan permintaan pengunduran dirinya, mengatakan "Sesuai dengan hak politik saya, jika nanti pada saatnya ada partai politik, katakanlah Partai Demokrat dan dengan gabungan partai lain yang mengusulkan saya sebagai calon presiden, insya Allah saya bersedia."
Keputusan pengunduran dirinya dinilai berbagai pihak suatu keputusan yang elegan. Dalam perjalanan kariernya, Yudhoyono, memang selalu ingin tampak elegan baik dalam bertutur maupun bersikap. Sikap itu terlihat dalam beberapa peristiwa penting yang melibatkan langsung menantu Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo itu.
Langkah pengunduran diri ini dinilai berbagai pihak membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang akan mengantarkannya ke kursi puncak kepemimpinan nasional. Polling TokohIndonesia DotCom menempatkannya sebagai calon wakil presiden yang paling puncak.
Dwitunggal SBY-JK
Proses pengunduran dirinya yang terkesan akibat tersisihkan dalam Kabinet Megawati telah mengangkat populeritasnya. Popularitasnya semakin menonjol. Ia seorang yang beruntung memiliki popularitas politik menggungguli para tokoh poltik lainnya yang justru sebelumnya meminangnya sebagai Calon Wakil Presiden. Popularitasnya telah mendongkrak perolehan suara Partai Demokrat pada Pemilu legislatif 2004 yang menduduki peringkat lima dan mengantarkannya menjadi calon presiden.
Tak lama setelah Pemilu Legislatif April 2004, SBY pun secara resmi meminta kesediaan M. Jusuf Kalla mendampinginya sebagai Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Pasangan ideal ini dicalonkan Partai Demokrat, PKPI dan PBB.
Pada Pemilu Presiden putaran pertama 5 Juli 2004, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla ini memperoleh 39.838.184 suara (33,574 persen) diikuti pasangan Megawati-Hasyim Muzadi 31.569.104 suara (26,60 persen). Kedua pasangan itu maju ke Pemilu Presiden tahap kedua 20 September 2004.
Sementara perolehan suara tiga pasangan Capres-Cawapres lainnya yakni di urutan tiga Wiranto-Salahuddin Wahid meraih 26,286,788 suara (22,154%), urutan empat Amien Rais-Siswono Yudo Husodo 17,392,931suara (14,658%), dan urutan lima Hamzah Haz-Agum Gumelar 3,569,861suara (3,009%).
Dalam aturan main Pemilu Presiden ditetapkan jika dalam putaran pertama tidak ada pasangan Capres-Cawapres yang meraih 50% + 1n suara dengan sedikitnya 20 persen di setiap provinsi dan tersebar lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, maka peraih suara terbanyak 1 dan 2 ditetapkan untuk maju ke putaran kedua Pemilu Presiden.
Hasil rekapitulasi penghitungan suara dari 32 provinsi ditambah hasil pemilu di luar negeri, jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya 121.293.844 orang, atau 78,22 persen dari pemilih terdaftar 155.048.803, lebih rendah dari pemilu legislatif yang 84,07 persen.
Pasangan Yudhoyono-Jusuf meraih kemenangan di 17 provinsi, termasuk di luar negeri. Pasangan Megawati-Hasyim mengungguli pasangan calon lainnya di enam provinsi. Pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid meraih kemenangan di tujuh provinsi. Pasangan Amien Rais-Siswono Yudo Husodo meraih kemenangan di dua provinsi. Pasangan Hamzah Haz-Agum Gumelar tidak memenang di satu pun provinsi.
Kemudian pada Pemilu Presiden putara kedua 20 September 2004, SBY-JK meraih kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia dengan perolehan suara di attas 60 persen, mengungguli pasangan Mega-Hasyim yang meraih kurang dari 40 persen suara.
Tinggal di Istana
Menjawab pertanyaan wartawan (24/9/2004), akan tinggal di mana setelah dilantik menjadi presiden, SBY menjawab: "Istana. Saya memilih akan tinggal di sana setelah dilantik." Pilihannya beserta keluarga untuk tinggal di Istana Negara didasarkan pada alasan akan lebih efisien dan efektif bagi pelaksanaan tugasnya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
Menurutnya, di istana akan memudahkan pengaturan kegiatan. Tidak akan terlalu menghambat lalu lintas, pengamanan akan lebih mudah, tamu-tamu akan mudah pengaturan dan pendataannya, dan demi penghematan juga. "Kalau saya tinggal di luar istana, pasti diperlukan pembangunan sejumlah fasilitas yang sebetulnya tidak diperlukan jika saya tinggal di istana," katanya. ►crs
Sang Singa Persia yang Sederhana

Mahmoud Ahmadinejad — Presiden Iran saat ini, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya:
“Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?”
Jawabnya: Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya: “Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran .”
Berikut adalah gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang terkejut dan terheran-heran :
1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan, Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.
2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.
3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.
4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri-menterinya untuk datang kepadanya dan menteri-menteri tersebut akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan-arahan darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri-menterinya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri-menteri tersebut berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.
5.. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum dan satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.
6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.
7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimiliki seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan: roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira,
ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.

9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.
10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sudah dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara-upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.
11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yang tidak terlalu besar
karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut.

Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal-pengawalnya yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi.
Menurut koran Wifaq, foto-foto yg diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media massa di seluruh dunia, termasuk amerika.
12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka.

13. Bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa.

14. Baru-baru ini dia baru saja mempunyai Hajatan Besar yaitu menikahkan Puteranya. Tapi pernikahan putra Presiden ini hanya layaknya pernikahan kaum Buruh. Berikut dokumentasi pernikahan Putra Seorang Presiden:



haneev.wordpress.com/
Minggu, 2009 Maret 29
pilihan hati tak pernah salah...
Meski tak memuaskan, namun cukup mencengangkan... =)
Hari ini pun banyak sekali motivasi besar untuk dorongan saya menjadi seorang nahkoda..!!
Tapi, kondisinya sedang kurang fit...
Ternyata bermain dengan tenaga dalam pun membuat kekurangan tenaga...
Semangat!!!
untuk...
Membuat calon sejarah menuju kesuksesan masa depan!
Sabtu, 2009 Maret 28
Aku di mata mereka…
Sebagai salah satu bentuk reflejsi diri untuk perubahan yang lebih baik, pada Kamis, 19 Maret 2009 lalu saya mengirimkan sms ke beberapa karib saya dengan isi :
Fren,
Qw gie bbnah dRi negh...
Tlg isi iia.
Rz Qrm blik..
*knangn brgQw:
-
-
-
*cri khasQw :
-
-
-
*hal bae yg p’lu dP’thnkn:
-
-
-
*hal bruk yg rz dBnhi :
-
-
-
***
Bagaimana dan seperti apakah jawaban mereka???
- Nita Herdianti. Si Chubby yang satu ini adalah teman satu mess, cuma beda kamar. =) Sejak kelas X dia sekelas, di X2. Sekarang juga ketemu lagi di XI Exact 2. Bahkan saat OSN pun ketemu lagi, di matematika.
Fren,
Qw gie bbnah dRi negh...
Tlg isi iia.
Rz Qrm blik..
*knangn brgQw:
- ??
- bnyk..
- cangkeul jmpol mun di tls..
*cri khasQw :
- platus everywhere
-
-
*hal bae yg p’lu dP’thnkn:
- adel baek..??
- hehe..
-
*hal bruk yg rz dBnhi :
- lbih pdulisme skitar ue nya..
-
-
6.20 am
Jumat, 2009 Maret 27
seorang Delia bukanlah manusia yang sempurna. Hanyalah sebatang kara yang sedang merangkak untuk bisa berlari dan membawa makna kehidupan dalam lariannya.
Terima kasih untuk bentuk perhatian para Ksatriaku...
Komentar mereka masih dalam proses pengeditan...
Jika kalian ingin memberiku petuah pula, bisa kirimkan ke neverdietolive@rocketmail.com.
Kamis, 2009 Maret 26
Tulisan ini saya dapatkan berdasarkan penuturan Pak Prof. Dr. Djoko Susanto, Rektor ITB
Bangun Kecerdasan Bangsa
Kecerdasan dan kepintaran tidak bisa lepas dari pendidikan. Hal tersebut baru bisa diimplementasikan pada saat belajar. Namun, apa sebetulnya hakikat belajar itu?
- Peserta didik ingin tahu dan ingin belajar
- Peserta didik jangan dipaksa menjadi apa yang belum waktunya dia lakukan. Misalkan anak usia 5 tahun sudah diberi materi untuk SD setingkat kelas III. Namun, biarkan semua mengalir secara normal.
- Guru harus memberi suri teladan. Saat guru terlambat, siswa pun akan ikut terlambat.
- Bersekolah atau penyampaian materi tidak hanya di kelas, tetapi bisa juga di lapangan, laboratorium, atau ruangan lainnya yang lebih mendukung. Hal ini harus dikonsultasikan dan buat perjanjian baru dalam kemasan yang berbeda.
- Mengoptimalkan leadership training yang memang sesunggunya hal ini merupakan bawaan dari lahir.
Adapun beberapa pelanggaran yang sering terjadi, di antaranya :
- Penguasaan wewenang kepada orang lain.
- Mengikuti kegiatan eksternal secara berlebih.
- Pemberian wewenangan
- Pelajaan tidak bisa disampaikan dengan baik
Hal lain yang harus dipertanyakan adalah sejauhmana kemampuan menulis guru karena berdasarkan pada penelitian bahwa kemampuan menulis guru masih rendah.
Lalu, seperti apa bentuk tanggung jawab sebagai pendidik?
- Kondisi belajar harus dibuat menyenangkan dan nyaman
- Guru harus mampu menguasai materi dan memiliki khas mengajar
- Hindari pelanggaran
- Menilai sesuatu secara bijak dan adil
- Menilai dari berbagai sudut
Tingginya rasa sadar akan kebutuhan pendidikan di luar negeri sangat tinggi. Terbukti di Amerika Serikat saja system absen sudah tidak diberlakukan lagi karena guru bertugas untuk mengajar dan siswa adalah belajar.
Sejauhmana peran pendidikan? Sesungguhnya institusi pendidikan merupakan wadah penciptaan kekuatan moral peserta didik. Karena institusi pendidikan adalah kekuatan moral peserta didik di mana ada etika di diajarkan pendidik dalam proses belajar. Hal ini untuk menciptakan kekuatan moral yang baik, budaya, dan insan yang cerdas.
Saat Kepercayaan Itu Hilang…(?)
“Ayo, belajar! Hal itu tak begitu bermanfaat! Emang ngaruh ke nilai mata pelajarannya? Saya kecewa dengan nilai yang tidak sinkron dengan apa yang kamu lakukan!”
Sebuah tamparan hebat yang membuat saya tercengang. I like writing, but my value in rapport was just so so. And I think, you can say it, so bad.
***
Seorang anak yang sedang mencari jati dirinya yang hampir digerogoti zaman, namun good filling itu tertindas dari busa pupuhunya sendiri. Ingin hati berontak. Tapi apa yang bisa menjadi tameng? Masa depan yang masih dalam rinai impian? Atau hanya pengalaman masa lalu orang lain? Hanya gelembung belaka.
Saat itu saya merasa hampir punah. Hati dan pikiran pun sudah digerogoti kenyataan. Demi mengejar cita, tetap saja nilai akademik yang dijadikan patokan. Meski toh pada kenyataannya, para peraih tinta emas itu belum dengan sepenuhnya mengaktualisasikan dalam keseharian. Yang justru itulah hakikat belajar yang sesungguhnya!
Penghargaan selalu dilihat dari sudut yang subjektif. Itulah yang mengekang diri menjadi pribadi yang rapuh, yang disesuaikan dengan selera. Belum pernah saya melihat, apalagi merasakan sendiri, bagaimana seorang ‘pununtun’ mampu mengendalikan dirinya untuk menjadi diri saya atau belajar mempelejari karakter saya untuk menemukan cara ajar yang lebih benar.
Mmh… Tidak sampai nge-blank sama sekali, sih. Saya baru menemukan dua jiwa yang belajar dari apa yang kita mau. Bukan hanya menyalahkan dari kesalahan dan perikeanak-anakan tunas. Saya salut.
Tapi kembali pada permasalahan. Belum mencapai 1% orang yang berdarah seperti itu. Tak heran, topeng-topeng menjadi tameng utama dalam lakon ini. Kedustaan dan kepura-puraan yang dilapisi madu dengan sentuhan perak. Terlihat menawan, namun jauh lebih dalam, busuk.
Mengapa yang seperti ini yang harus menimpa diri saya? Saat kawan sebaya dengan bebas mengaktualisasikan diri untuk mengembangkan diri, saya justru bak puteri istana yang dikerangkeng di menara paling atas.
Pikiranku menjadi tali, imajinasiku menjadi rantai. Mereka mengikat hati, tanpa pedulikan diri ini.
Jujur, ada rasa iri yang muncul. Begitu bangga berragam jenis piala disumbangsihkan teman-teman sebagai bukti pengabdian. Tapi apa yang sudah saya perbuat? Mungkin mimpi saja malah roboh. Adilkah ini?
Lagi, saya rindu kebebasan. Saya kangen masa lalu. Tapi hanya ilusi silam yang tak bisa dibenahi lagi.
Saya ingin kembalikan jati diri saya. Hak saya. Nilai-nilai usaha saya. Jangan sampai zaman kembali menggerogoti dan kepercayaan harus sirna. Ya Allah, hamba mohon, tunjukkanlah keadilan-Mu. Untuk membukakan hati orang-orang yang masih buta ataupun yang dibutakan.
Rabu, 11 Maret 2009
03.39-04.20
Dengan harap, semuanya akan kembali.
Sesuai relnya.
Amin.
Langit mulai bergeliat
Menampakkan bulan yang hanya sepasi
Serta liur hujan yang sesaat sayup dan kali lainnya mengamuk di permukaan
Cukup…
Hentikan…
Sudahi dengan damai!
Dengan bintang yang sudah jauh hari kepakan harap
Tinggalkan sepucuk lembar kepedihan
Yang akan dirombak dalam sebuah “U”
United!
Dengan senyum pula
10.33 pm
19 March 2009
Sudahkah?
Pernahkah ada salam yang santunkan dalam kenanga
Ataukah baru tersampaikan lewat letusan jeruji frontal
Yang menjadi batok dengan kadar haq yang tak terhingga
Sehingga lirihnya pun laksana wicara yang tak berpenghuni
Adakah yang akan bukakan kode ini
Dengan sentuhan yang menguas kalbu
Sedang hati laju mengikuti
Yang tergoyahkan pikirpun
Ingin tanyakan pada professor
Jelaslah bukan itu titik kacaunya
Pada dokter bedah,
Bukan pula yang paling tepat
Coba tanya pada sang lentera dunia
Belum pula terjawab
Mungkinkah ada titik terang dalam kesunyian
Dari bisik di belakang,
Aku menoleh.
“Keimananmu, Nak!”
Keteguhan yang dipertaruhkan
8.13 am
20 Maret 2009
Minggu, 2009 Maret 22
Begin from Small Things
Percaya ‘g kalau hal kecil bisa menjadi sesuatu yang besar? Pernah dengar kisah Andrie Wongso yang sukses membangun perusahaan Harvest? Berawal dari kata-kata mutiara yang sering beliau tulis dan kemudian disukai oleh teman-temannya, akhirnya beliau berinisiatif untuk membangun perusahaan. Padahal, SD pun beliau tak tamat, lho.
Atau kisah Thomas Alfa Edison yang berhasil menerangi dunia dengan menciptakan lampu pijar. Dengan sebuah lampu pijar, namun sang penemu ini mampu membuat seluruh daratan bumi bisa menyala dalam kegelapan.
Itu yang positifnya. Tapi bagaimana jadinya jika hal kecil yang kita lakukan itu ternyata meluluhlantahkan dunia?
Beberapa waktu kemarin, kami melakukan beberapa penelitian mengenai tindak-tanduk pelajar yang kurang efektif sehingga bisa menyebabkan efek-efek negative yang tak hanya merugikan diri kita sendiri, tapi makhluk hidup sekitar, bahkan bumi ini! Apa sajakah??? Check it out!
1. Menggunakan air secara percuma
Tahukah, selama 1 menit saja air kran dibiarkan mengalir begitu saja, sebanyak 9 liter air terbuang cuma-cuma. Sedangkan mandi dengan menggunakan ember 3 kali lebih boros dibanding menggunakan shower.
Bagaimana dengan kenyataan pelajar Tasikmalaya? Dari sepuluh pelajar yang kita amati dan jadikan sampel, sebanyak 30 % mereka mandi dengan menghabiskan satu bak mandi penuh dengan kapasitas volume sebesar 0.8 m3 tanpa membuka kran lagi. Kemudian sebanyak 50% memakai air bak mandi penuh dengan kapasitas volume yang sama dengan sisa hampir setengah bak. 20% lainnya bisa memanfaatkan air secara efektif.
Sangat mengerikan. Maka, dalam menyikapi hal ini, PBB mengatakan hampir setengah populasi penduduk dunia akan tinggal di daerah yang mengalami kekurangan air secara akut pada tahun 2030.
2. Para Pelajar Pengguna Kendaraan Bermotor
Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa emisi yang dihasilkan dari kegiatan transportasi adalah 26% dari emisi total yang dihasilkan oleh Indonesia. Ditambah sekarang makin marak para pelajar yang menggunakan kendaraan untuk pergi ke sekolah. Kebanyakan menggunakan sepeda motor karena praktis dan hemat biaya. Tapi, mereka belum mengetahui apa dampaknya.
Kendaraan bermotor mengeluarkan berbagai gas, antara lain CO2 (karbon dioksida), gas hidrokarbon (HC), dan gas karbon monoksida (CO). Gas tersebut merupakan bagian dari proses pembakaran dalam mesin, ketika kendaraan bermotor dijalankan. Semakin baik proses pembakaran, maka semakin rendah emisi gas buang, sebaliknya bila pembakaran kurang sempurna, emisi gas buang menjadi lebih buruk dan mencemari lingkungan. Gas buang kendaraan bermotor CO2 adalah salah satu penyumbang gas rumah kaca (GRK) yang besar. Pembuangan transportasi. Kendaraan yang mengonsumsi 7,8 liter bahan bakar per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, setiap tahunnya mengeluarkan emisi 3 ton CO2 ke udara!
Bila saja para pelajar sadar dengan keadaan bumi yang semakin menghawatirkan, mereka akan memilih menggunakan sepeda atau jalan kaki. Seharusnya pihak sekolah juga melarang siswa-siswinya yang belum mempunyai sim untuk tidak menggunkan kendaraan bermotor ke sekolah. Mereka sadar bahwa menggunakan sepeda motor itu dapat meningkatkan pemanasan global. Tetapi masih banyak diantara mereka yang menggunakan sepeda motor. Gunakan kendaraan dalam perjalanan singkat atau dekat. Jalan kaki, kayuh sepeda, naik mobil beramai-ramai, dan kendaraan umum, selain akan menghemat pengeluaran transport, tentu saja mengurangi karbondioksida. Sekaligus olah raga, kan?
3. Terlalu sering mengcharge hp dan laptop
Komputer masa kini adalah komputer yang boros konsumsi listrik dan panas. Jika pengisian ulang baterai sudah penuh, segera cabut! Telepon genggam, laptop, pencukur elektrik, sikat gigi elektrik, kamera, dan lain-lain. Nggak menancapkan colokan listrik walaupun ketika alat elektronik itu dimatikan = menghemat 40-50% biaya listrik yang harus anda bayarkan tiap bulannya. Dan berarti pula, mengurangi panas yang timbul dari alat elektronik yang merembet ke pemanasan global. Matikan alat elektronik! TV, DVD, VCD, MP3, stereo, komputer, games, ketika tidak sedang menggunakannya.Kita akan menghemat beribu-ribu kg karbondioksida per tahun. Tak perlu dipindahkan ke posisi stand-by atau memasang timer karena listrik masih tetap mengalir. Jangan charge HP anda semalaman karena pemborosan energi. Jumlah emisi CO2 yang bisa dicegah jika hanya memasang steker pemutar DVD dan pemutar musik ketika akan digunakan adalah sebesar 106 kg/tahun. Oleh karena itu setelah batrei penuh harus segera dicabut.
4. Efektivitas penggunaan lampu
Fakta atas perilaku pelajar dalam menyalakan lampu rumah yang dilakukan. Penggunaan energi lampu, 90 % orang sangat menghemat terhadap kapan nyala dan matinya lampu. Beberapa orang menghemat dengan cara waktu menyalakannya, pada sore hari waktu adzan maghrib mereka baru menyalakannya. Dan mematikannya pada pagi harinya, selain itu lampu dimatikan pada saat tidur. 10 % orang mengaku sering lupa untuk mematikan lampu pada siang harinya. Dan itu salah satu pemborosan atas sumber daya alam. Kenapa? Karena PLN masih menggunakan bahan bakar dari bensin. Hal itu dapat menimbulkan sunber energi dapat habis. Dan kita bisa menghabiskan sumber daya alam yang tidak dapat dipebaharui.
5. Cara kerja televisi
Televisi, diakui oleh beberapa pelajar adalah alat yang dapat menghamburkan sumber energi. Karena apa? Televisi itu memiliki banyak fungsi diantaranya banyak pelajar menggunakan televisi sebagai DVD ataupun CD player. Jadi televisi diakui pelajar dapat menghaurkan sumber enegi dibandingkan energi lampu yang digunakan. Bahkan banyak orang menyalakan lampu sampa 24 jam dikurangi 6 jam untuk jam tidur. Selain itu, sering orang tidak mematikan TV pada saat tidur atau sedang melakukan hal lain.
Dampak yang dapat ditimbulkan karena tidak terlalu memporsir kerja TV, adalah energi yang di keluarkan oleh TV itu dapat mengakibatkan pemanasan global yang kini telah gempar tejadi. Mengapa bisa begitu? karena energi yang ditaring oleh televise dapat mengakibatkan lapisan ozon menipis, jadi terjadilah yang namanya global warming.
6. Teknologi computer
Pada zaman sekarang adanya teknologi komputer sudah tidak aneh lagi, rata- rata pelajar memiliki komputer. Dan energi yang di keluarkan dari komputer sangat boros, karena komputer digunakan untuk mengkerjkan sebuah pekerjaan, komputer pula dapat digunakan sebagai pengganti televisi dalam dan komputer bisa menjadi wahana permaian seperti games, DVD, music player. Energi dan panas yang di keluarkan oleh komputer. 30 % pelajar mengunakan komputer untuk pekerjaan yang penting saja. Tapi di sisi lain 70 % pelajar tidak memporsir kerja komputer, apalagi bila hari libur komputer akan menjadi alat yang menghaburkan sumber energi.
Apalagi pada masa kini teknologi komputer banyak digunakan. Dan apa terpikir berapa energi yang dikeluarkan oleh komputer yang digunakan oleh kita? Bila pelajar tidak bisa memporsir kerja komputer, bisa dibayangkan kita akan kembali kedalam masa purba yang tidak menggunakan sumber energi listrik. Bila komputer tidak digunakan, seharusnya dimatikan saja. Jangan selalu stan by menyala atau hanya untuk mendengarkan musik saja. Itu hal yang bisa membantu untuk tidak memboroskan energi.
***
Tahukah kawan, tindakan-tindakan ‘sederhana’ itu merupakan awal bencana dari rentetan kejadian-kejadian mematikan dan mengganggu, merusak, bahkan membinasakan kehidupan di muka bumi ini. Tak percaya?
Sadar ataupun tidak, sejak saat ini pun hawa ketidaksinkronan alam dengan pelbagai perubahan dunia sudah mulai terasa. Banyak masyarakat yang mulai gusar dan khawatir dengan perubahan sistem iklim yang sulit diprediksi. Belum lagi kelangkaan air, sering matinya aliran listrik, dan banyak lagi kejadian yang mengerikan.
***
Akhir dari masalah adalah dampak. Namun, dampak tersebut tidak akan terjadi atau jikapun tetap terjadi, maka bisa diminimalisir dengan pelbagai macam planning. Sebagai generasi muda, what will you give for your life, for the world?
Terlalu banyak yang memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, kini masalahnya bukan dari apa dan kapan hal tersebut akan terjadi, justru apa yang bisa kita beri!
Lets we do from now! Keep our life, our future.
Delia, Wilda, Ridla, Isty
Q Smart - GSM
Kak Prof. Dr. Azrul Anwar, MPH, Dasadarma dan Trisatya Salah Satu Aspek Kepemimpinan
Pramuka sudah mulai kita kenal sejak SD. Bahkan hampir di seluruh sekolah dasar, Pramuka sudah menjadi ekstra kurikuler wajib yang biasanya dilaksanakan setiap minggunya pada Jumat atau Sabtu. Organisasi yang begitu kental dengan baju khasnya yang berwarna cokelat, dengan belati dan tambang yang berada di samping kanan dan kiri pinggang ini memang sudah begitu akrab di dalam aktivitas pelajar.
Jika ditelaah lebih dalam, aktivitas-aktivitas yang dimunculkan di Pramuka merupakan salah satu konsep kepemimpinan. Hal tersebut juga dikuatkan oleh Kak Azrul Anwar, Ketua Kwaran Nasional. Beliau yang ditemui tim Q Smart beberapa waktu lalu di Jakarta mengungkapkan bahwa dalam Pramuka menganut prinsip kepedulian. Ing Ngarso Sung Tulodo, Tut Wuri Handayani, yang artinya figur seorang pemimpin yang baik adalah disamping menjadi suri teladan atau panutan bagi bawahan.
“Di Pramuka, pelajar dididik berbagai aspek, khususnya yang tercantum dalam Dasa Darma dan Trisatya. Mental mereka dilatih agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang harus diperbaiki.” Jelas beliau.
Sayang, pendidikan yang diajarkan di Pramuka belum berjalan dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Misalnya, Pramuka baru bersifat wajib di SD, sedang di beberapa SMP dan SMA masih bersifat ekstra kurikuler pilihan.
Padahal, teori yang diterapkannya menarik, kreatif, dan mudah diterapkan. Biasanya diaplikasikan dalam bentuk permainan. Namun, di balik itu semua, tersirat aspek-aspek yang dibutuhkan seorang leader. Aspek kepemimpinan, meningkatkan kedewasaan, menjalin kebersamaan, hingga melatih kesabaran dan tenggang rasa.
Sehingga, banyak terjadi perilaku menyimpang yang dilakukan para pelajar yang notabene merupakan generasi pemegang kedaulatan bangsa di masa depan. Tawuran, saling menindas, memalak, seringkali terjadi. Padahal pada pelaksanaannya, sang ‘tersangka’ sudah memiliki nilai kepemimpinan. Namun sayangnya, mereka mengaplikasikan dalam hal yang kurang baik. Sesungguhnya, apabila tindakan tersebut diputarbalikkan dan kemudian diaplikasikan di dalam hal yang lebih positif, sungguh kekuatan yang besar untuk menjadikan Indonesia yang maha kuat.
So, ada yang berminat mengikuti Pramuka? Soalnya di Pramuka juga dibagi dalam 7 klaster yang mereka sebut dengan ‘saka’. Saka tersebut tergantung pada spesifikasi bidang. Misalnya Saka Bhayangkara yang lebih menjurus pada aspek pertahanan dan keamanan, untuk para calon polisi. Atau Saka Wirakartika yang berada di bawah TNI AD.
S. A. Deliabilda
Q Smart –GSM
Jumat, 2009 Maret 20
Tak hanya itu, penguasaan di bidang teknologi dan informasi juga harus diperhatikan. Dengan maraknya HP dan kemudahan dalam bersuluncur di dunia maya menjadi sinyal bagi generasi muda untuk mampu mengimbangi bahkan menguasainya. Bahkan bisa dijadikan ‘ladang’ untuk berdakwah lebih luas lagi. Terbukti, dengan pemanfaatan seperti itu, kini Islam semakin menjalar hingga ke India, Mesir, Yunan, hingga ke Negara bagian Eropa.
Bertempat di Mesjid Al Mannar Muhammadiyah,beliau memberikan tausyiah, mencuci otak dan pemikiran dengan ilmu yang lebih terbuka lagi. Melihat kondisi sekarang yang semakin carut-marut akibat dampak globalisasi dan perkembangan teknologi, dalam waktu yang hanya sekitar 20 menit, beliau memberi banyak petuah yang tersirat dalam bahasanya.
“Indonesia butuh orang-orang yang mampu menghadapi tantangan global. Ada tiga macam karakter yang dibutuhkan. Men of idea, men of dream, and men of doing.” Ujar beliau dengan semangat membara.
Tokoh Indonesia yang pernah menjabat menjadi Wakil Ketua Pimpinan Muhammadiyah Pusat pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 dan menjadi ketua pada pertengahan perjalanan yang kemudian dilanjutkan pada Muktamar Muhammadiyah ke-43 ini mengaku bahwa dalam mengukur potensi dan kekuatan Islam di muka dunia bisa dilihat dari kekuatan fisik maupun intelektualitas generasi mudanya.
Dunia carut-marut. Tantangan global semakin kompleks. Bukanlah jiwa-jiwa yang egois dan hanya suka memanjakan diri yang dibutuhkan kini. Adalah sosok yang memiliki mimpi, ide, dan thinking outside the box serta pemikirannya tak hanya untuk lingkup dirinya sendiri, namun untuk tanah air dan bangsanya.
Raut Indonesia telah banyak melahirkan wajah-wajah orang besar. Wajah-wajah tokoh intelek yang memiliki semangat tinggi untuk membangun bangsa. Adalah Prof. DR. H. M. Amien Rais, M.A., salah seorang yang memiliki spiritual tinggi dan pernah menduduki salah satu kursi pemerintahan tertinggi, MPR.
Dalam kesempatannya melenggang ke Tasikmalaya beberapa saat lalu, tak kami siakan untuk bersua dengan beliau. Pria kelahiran Surakarta, 26 April 1944 ini adalah salah seorang tokoh yang aktif dalam pergerakkan politik dan memiliki spiritual keimanan yang kuat.
Mengapa beliau begitu bergelora dalam menyikapi dunia yang sedang mengalami krisis global ini? Hal ini dikarenakan latar belakang pendidikan beliau yang telah memberinya banyak pengalaman dan kemammpuan kognitif-analisis.
Maklum, setelah sedari kecil dididik untuk menjadi seorang kyai oleh orang tuanya, beliau melanjutkan kuliah strata 1 di FISIPOL UGM dan IAIN Sunan Kalijaga. Kemudian, gelar master dan doctoralnya beliau terima dari universitas terkemuka di Amerika Serikat. Dalam perjalanannya, beliau juga pernah menjadi MWA (Majelis Wali Amanah) UGM.
Kritiknya yang sangat vokal sangat mewarnai opini publik di Indonesia. Bahkan, sepulangnya dari pendidikan di Amerika, ia terkenal sebagai pakar politik Timur Tengah.
Saat ini beliau sering kali keliling Indonesia, bahkan hingga ke Brunei, Kairo, Australia, dan Belanda untuk memberikan tausyiah kepada masyarakat supaya tidak terjebak oleh globalisasi ini.
S. A. Deliabilda
Q Smart - GSM
Senin, 2009 Maret 09
Tak terasa, sepekan sudah penyelenggaraan JSC atau akronim dari Java Student Competition diselenggarakan oleh OSIS SMA Al Muttaqin. Acara se-Pulau Jawa yang memperebutkan piala-piala bergengsi dengan tajuk Pekan Kreativitas dan Inovasi Pelajar se-Pulau Jawa ini dilaksanakan dari 2-7 Maret 2009.
Dalam sepekan tersebut, banyak agenda kegiatan yang diselenggarakan. Sebagian besar terkonsentrasi di Kampus SMA Al Muttaqin. Ada sepuluh kompetisi lomba, Uji Kompetensi Sains dan Bahasa, Workshop Pendidikan Sains Alam Sosial, serta pameran pendidikan yang mewarnai acara.
Untuk uji kompetensi sains dan bahasa, dilaksanakan pada Sabtu, 28 Februari di empat titik. SMP-SMA Al Muttaqin, SMPN 1 Ciamis, SMPN 2 Ciamis, dan SMPN 1 Pagerageung. Uji kompetensi ini ditujukan untuk menentukan siswa dan sekolah terbaik dari masing-masing wilayah. Peserta yang mengikuti uji kompetensi sebanyak 1052 peserta.
Peserta
Label se-Pulau Jawa bukan hanya nama belaka dalam penyelenggaraan acara ini. Dari ujung timur hingga ujung barat Pulau Jawa turut mengikuti lomba ini. Dari mulai Banten, Depok, Bekasi, Bandung, hingga Tulungagung turut berpartisipasi. Jumlahnya pun meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya se-Provinsi Jawa Barat. Peserta yang turut berpartisipasi mencapai 1300 peserta.
Pembukaan
Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan. Sepertinya, peribahasa itulah yang terjadi pada pelaksanaan Java Student Competition. Acara yang pada awalnya direncanakan dibuka oleh Presiden, Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, dengan pertimbangan banyak hal yang lebih prioritas, maka acara dibuka oleh Walikota Tasikmalaya, Bapak Drs. H. Syarif Hidayat, M.Si. Sedangkan Gubernur Jawa Barat sedang ada agenda lain dan sedikit miscommunication, perwakilan dari Pemprov tetap hadir meski pada sore hari. Beliau hadir dan sempat berbincang dengan Kepala Sekolah SMA Al Muttaqin, Wakasek Kesiswaan, dan beberapa panitia.
Workshop Pendidikan Sains Alam dan Sosial
Dengan tujuan ingin meningkatkan minat dan menumbuhkembangkan budaya riset di kalangan siswa serta guru SMP dan SMA atau sederajat di Tasikmalaya dan Ciamis, maka di sela acara, panitia mengadakan Workshop Pendidikan Sains Alam dan Bahasa.
Sayang, hanya sekira 62 guru yang hadir dalam acara yang dilaksanakan pada Jumat, 6 Maret ini.
Sebagai pembicaranya, panitia mengundang salah seorang professor dari LIPI, lebih tepatnya Bapak Prof. DR. Eko Baroto Walujo yang memegang divisi etnobotani biologi. Hadir pula Bapak Syarif, Bapak Budi, dan Ibu Retno dari bagian Humas LIPI.
Sebuah surat dari masa depan
http://apakabardunia.com/2009/01/sebuah-surat-dari-masa-depan/Kepada Yth
Manusia
Di
Tahun 2009
Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun.
Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih.
Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku, Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya.
Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang di basahi dengan minyak mineral.
Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air.
Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja.
Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: “JANGAN MEMBUANG BUANG AIR”
Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering.
Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya.
Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis. Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari.
Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.
Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air.
Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.
Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang.
Morphology manusia mengalami perubahan… yang menghasilkan/melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.
Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31.102 galon]
Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen.
Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun.
Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata.
Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi.
Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau.
Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu.
Dia bertanya: - Ayah ! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?
Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. ..
Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian… dan banyak orang lain juga !.
Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya, Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.
Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi… Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini !
Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang.
Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita.
Lakukan untuk anak dan keturunan mu kelak”
“AIR DAN BUMI UNTUK MASA DEPAN”
Regards,
Jerry
tulisan yang saya buat selalu saja saat saya berada pada titik kritis.
dengan niat yang kuat,
akhirnya dalam jangka waktu tak lebih dari 2 hari,
saya bisa menyelesaikan untuk lomba di Forum Lingkar Pena 2008.
Meski tak jadi juara,
tapi saya tetap menjadi pemenang.
Untuk diri saya.
Minggu, 2009 Maret 08
UNTUK
HARI ESOK
Indonesia, tanah pusakaku. Bangsa yang telah gigih mempertahankan harga diri secara fisik selama hampir empat abad.
Memperjuangkan hak sendiri dari tangan-tangan yang merebut. Tanah inspiratorku, tempat loncatan-loncatan ide aku tangkap dari setiap bilah mata dan hatiku.Tanah pelipur laraku, di mana kerendahan hati para penghuninya membuat aku bisa membentangkan senyuman di kala duka menghujam. Tanah menyejukkan, karena padang hijau yang terbentang luas di setiap pulau dan inilah sang jantung dunia. Tanah kehidupan, memberi nyawa lewat panoramanya bagi setiap makhluk yang menghuni. Tanah pemikat, yang membuat jatuh hati orang yang melirik kekayaan alamnya. Tanah kecerdasan, mencetak manusia-manusia yang diakui kecerdasan, kepintaran, dan kesahajaannya oleh orang yang melihat dengan mata hatinya. Dan Indonesiaku adalah tanah harapan. Saksi sejarah kehidupanku dalam pertaruhan nyawa demi menjaga harga diri dari tekanan-tekanan fisik, mental, maupun spiritual yang telah mulai gencar dialami bibit-bibit penerus bangsa.
Detik demi detik, masa demi masa, permasalahan bertubi tiada henti. Miris menyaksikan berbagai rintangan yang harus dihadapi Indonesia. Ketimpangan sosial, sengketa budaya, hingga kemerosotan moral bangsa. Dan hal yang paling ditakutkan dan harus dilindungi secara baik dan benar, yakni masalah degradasi peran pemuda. Sosok yang menjadi tumpuan harapan, calon pemikul visi bangsa, roda penggerak misi dan target, dan penentu arah anak cucu yang masih ada dalam kandungan ibunda, sudah menjadi barang langka ditemukan di berbagai sudut pulau.
Apakah ini baru dialami ataukah memang suatu hal yang sudah turun temurun terjadi di dalam silsilah kepemimpinan Indonesia?
Aku pernah mencoba kilas balik ke belakang. Memutar kembali album pemuda zaman dahulu. Jujur, dibenak ini masih ada sebuah keganjalan, bercerita masa lalu berarti membaca sejarah. Namun terkadang, sejarah bercerita secara subjektif. Jika pro pada tokoh A, maka akan mengagungkan A. Begitu juga apabila kontra kepada B, maka B menyudutkan B.
Namun, memang tak ada salahnya untuk mengambil hikmah dari pelbagai carita sejarah yang berkaitan dengan peran pemuda Indonesia zaman dahulu. Sebagai cerminan agar menjadi bangsa yang kaizen, di mana menjadi bangsa yang maju dengan cara ambil yang baik, buang yang buruk, ciptakan yang baru.
Berdasarkan cerita yang dipelajari di sekolah maupun yang dimuat di berbagai media, baik itu media cetak maupun media elektronik, awal gelora semangat juang pemuda Indonesia sudah terasa sejak dalam penjajahan Belanda di awal abad ke-20. Puluhan tahun sebelum Indonesia merdeka.
Pemuda zaman dulu telah mengenal organisasi sejak masih pelajar. Sudah bisa terbaca, saat itu sudah mulai dipersiapkan kader-kader bangsa.
Organisasi kepemudaan adalah wahana penyambung dan penghimpun para pemuda. Organisasi dijadikan ajang bertukarpikiran dan memecahkan berbagai masalah. Boedi Oetomo adalah organisasi yang diketahui sebagai organisasi pertama penghimpun pelajar. Meskipun pada awalnya hanya untuk lingkup kedaerahan, namun pada perkembangannya, organisasi yang didirikan pada tahun 1908 ini mampu menghimpun pemuda-pemuda dari berbagai daerah secara nasional.
Setelah bertahun-tahun, ternyata gagasan Dr. Wahidin bersama rekannya dalam membentuk Boedi Oetomo memacu semangat pemuda Jawa. Sehingga pada tahun 1915 yang bertempat di gedung kebangkitan nasional, pemuda Jawa membentuk organisasi bernama Tri Koro Dharmo yang berarti Tiga Tujuan Mulia. Namun, organisasi ini berubah nama menjadi Jong Jawa pada kongres di Solo.
Geliat semangat tak hanya milik pemuda Jawa, tetapi juga oleh pemuda Sumatra. Selang dua tahun setelah Tri Koro Dharmo berdiri, kemudian dibentuk Jong Sumatra Bond (Persatuan Pemuda Sumatra). Dari organisasi inilah muncul tokoh-tokoh negara, seperti M. Hatta dan M. Yamin.
Menyusul Jong Jawa dan Jong Sumatra Bond, banyak lahir Jong-jong lain yang menjadi organisasi perkumpulan daerah. Sebut saja Jong Celebes di Sulawesi, Jong Ambon, Jong Minahasa, dan lain sebagainya.
Melalui organisasi-organisasi kedaerahan inilah para pemuda turut membantu daerahnya masing-masing agar bisa lepas dari kemelut masalah.
Terlepas dari unsur kedaerahan, pada tahun 1925, mahasiswa Jakarta dan Bandung membentuk Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia. Semangat pemuda kian membara untuk memerdekakan Indonesia. Sehingga dengan mengumpulkan berbagai Jong yang telah dibentuk sebelumnya di daerah masing-masing, pada tahun 1927 diadakan perkumpulan pemuda-pemudi di Bandung. Keputusan perkumpulan ini adalah dibentuknya organisasi Jong Indonesia yang kemudian diubah menjadi Pemuda Indonesia untuk yang berjenis kelamin laki-laki dan Putri Indonesia bagi perempuan.
Dari sinilah, dengan satu hati satu asa untuk mengabdi kepada tanah air, Pemuda Indonesia menghasilkan sebuah ikrar yang disebut dengan Sumpah Pemuda. Ikrar ini diputuskan pada kongres kedua, 28 Oktober 1928.
Sumpah pemuda ini merupakan titik tolak dari peran pemuda itu sendiri. Memberi gairah baru untuk terus memperjuangkan citra bangsa. Perlu kita refleksikan isi dari naskah Sumpah Pemuda.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
Tiga kalimat sederhana namun menggugah rasa, hati, dan cinta terhadap tanah air. Meski terpisah oleh lautan, mungkin transportasi pun belum sepraktis sekarang, tanpa memandang dan membedakan kebudayaan yang berbeda, namun Sumpah Pemuda mampu menyatukan pandangan dan pemikiran pemuda.
Tak hanya sampai di situ, atas dorongan Sumpah Pemuda dan untuk memperkokoh dan meleburkan organisasi lokal atau daerah, pada tahun 1930 dibentuk Indonesia Muda yang merupakan organisasi nasional.
Organisasi pemuda tetap gencar mencari cara dan strategi untuk memekik kata merdeka. Bukan hanya untuk golongan mereka saja, namun untuk seluruh tanah ibu pertiwi.
Kekuasaan Indonesia mulai beralih ke pangkuan Jepang pada pertengahan tahun 1942. Mungkin mereka berkaca dari masa lalu, peradaban yang sudah mulai hidup, serta tekanan dari Jepang yang lebih kejam dari Belanda sepertinya menciptakan kegigihan yang lebih dasyat.
Hingga akhirnya, ada sebuah celah kosong pada Agustus 1945. Indonesia mengalami vacuum of power. Golongan muda mendesak kepada Soekarno dan golongan tua lainnya agar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memerdekakan Indonesia.
Adu pemikiran antara golongan tua yang terlalu memiliki banyak pertimbangan dan golongan muda yang terkesan terlalu buru-buru sempat menjadi polemik. Meski begitu, golongan muda tidak patah arang dan misinya untuk bisa memerdekakan Indonesia dalam waktu secepat-cepatnya tidak pernah goyah. Berdasarkan pertimbangan para golongan muda setelah penolakan oleh golongan tua, dengan terpaksa golongan muda menculik Soekarno, Hatta, beberapa tokoh golongan tua, berikut dengan Fatmawati, istri Soekarno.
Memang terkesan kasar dan kurang sesuai etika. Namun pengaruh dari tindakan nekat tersebut sangat positif. Indonesia bisa menyuarakan gema merdeka pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 dan membacakan teks proklamasi.
Sungguh luar biasa peran pemuda pada pra-kemerdekaan. Aku begitu kagum bagaimana pemuda dulu mengorganisir berbagai organisasi, baik organisasi keaderahan maupun nasional. Perseteruan dengan golongan tua dan peristiwa penculikan terhadap presiden pertama Indonesia menandakan begitu berliku jalan yang mesti ditempuh pemuda. Perasaan kurang percaya kepada golongan muda justru menjadi motivasi untuk bisa berperan dalam dunia ketatanegaraan. Keyakinan mereka untuk bisa bangkit dari keterpurukan tak ada salahnya untuk diterapkan di era globalisasi ini.
Namun, serangan dan tekanan masih tetap menjadi bagian kehidupan meski kemerdekaan telah diusung. Polemik yang terjadi berasal tak hanya dari luar negeri akan tetapi dari dalam negeri juga.
Sayangnya, mencari tahu tentang peran pemuda pasca merdeka cukup sulit ditemukan. Terutama pada tahun 1950-1966. Tak hanya peran pemuda yang sifatnya lebih spesifik, mencai keterangan lebih mendalam dan mendetail mengenai kondisi Indonesia pada saat itu saja sulit ditemukan. Termasuk di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Pengarsipan dan administrasi pada masa ini memang sangat kurang diperhatikan. Hal ini diakui juga oleh salah seorang penulis biografi Otto Iskandar Di Nata.
Mengambil kesimpulan dari sebuah situs di internet, yakni http://transparansi.or.id/, diterangkan bahwa ada perbedaan pergerakan pemuda antar dekade. Pergerakan pemuda tahun 1928 dan 1945 mengantarkan pemuda mengambil peran strategis dalam kepemimpinan bangsa dan negara Indonesia.
Angkatan 1928 memimpin perjuangan diplomasi dan gerilya untuk memerdekakan Bangsa Indonesia. Kemudian angkatan 1945 segera memegang tampuk kepemimpinan nasional setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1945, meski disimpulkan bahwa pemuda berperan sebagai tampuk kepemimpinan nasional, namun hal ini tidak dijelaskan secara rinci dan pasti. Mungkin alasannya sama seperti yang aku kemukakan.
Bergerak ke tahun 1966, saat yang mana Soeharto menggantikan posisi Soekarno. Sikap yang ditunjukkan oleh Soeharto sangat berbanding terbalik dengan Soekarno yang hangat dan akrab dengan masyarakat. Sedang Soeharto kaku dan lebih sering berkumpul dengan keluarga besar daripada berbaur bersama masyarakat.
Tak hanya itu, sistem yang diterapkan dalam kepemimpinannya selama 32 tahun ini bersifat otoriter dan mengikat. Dalam analisisku (dan mungkin sama dengan yang lain), dari keotoriteran inilah aspirasi muda mulai tak tersalurkan.
Banyak perintah larangan untuk melakukan banyak hal. Larangan untuk demokrasi dan menyuarakan mengenai politik. Menurut cerita, siapa saja yang berani usik atau tidak sesuai dengan aturan yang diusung oleh pemerintah, maka dia ringkus dan diasingkan.
Indonesia terasa aman dan tenteram. Namun justru menjadi awal pengrusakan mental-mental generasi muda. Daya kritis mereka dijegal. Dan lamanya masa kepemimpinan inilah yang telah mengubah sudut pemikiran pelajar sebagai pemuda.
Dari sistem pemerintahan yang seperti itu, tidak menutup kemungkinan menjadi cikal bakal lahirnya pemuda yang acuh tak acuh terhadap pemerintah dan pemuda yang memberontak dan kontra terhadap pemerintah.
Sehingga, pemerintah dan pemuda yang seharusnya bersama-sama berpangku tangan untuk kemajuan bangsa, malah menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Sekat pembatas antara dua pihak itu terlalu tebal. Padahal waktu 32 tahun itu adalah lama dan harusnya mampu mengatasi permasalahan yang kompleks.
Kontranya pemerintah dengan pemuda menjadikan pemuda dianggap sebagai seorang bebuyutan. Apalagi pemuda sering melakukan aksi-aksi demo hingga mampu meruntuhkan rezim pemerintahan pada masanya.
Aksi-aksi seperti itu masih sering dijumpai pada saat ini. Meskipun hal tersebut merupakan salah satu cara menyampaikan aspirasi, namun terkadang pengontrolan dirinya kurang dijaga. Sehingga tak hanya menyampaikan pemikiran pemuda, tetapi bonus dengan merusak beberapa fasilitas umum. Aksi tersebut disalahartikan dan disalahgunakan. Dan yang leboh ironis lagi, setelah menumbangkan tidak ada peran strategis yang diambil dalam kepemimpinan nasional. Tak heran, aksi tersebut akan sulit dihindari.
Memang, pada tahun 1966 Jenderal Soeharto mengendalikan kepemimpinan nasional melaui militer. Dan di awal reformasi, kepemimpinan nasional diambil alih oleh elit politik, baik legislatif maupun eksekutif.
Kilas balik mengenai kepemimpinan nasional Indonesia, wajah muda memang belum banyak yang bergabung. Selama masa pembangunan, telah beberapa dekade kita arungi. Berbagai tipe wajah pemimpin telah ikut menyemarakkan kursi kepemimpinan ibu pertiwi. Dari mulai tokoh nasionalis yang karismatik, jiwa yang kaku dan otoriter, pribadi yang hangat dan lovable, pemikir yang nyentrik, sosok wanita yang berasal dari partai politik, hingga seorang yang bijak namun tegas. Semuanya memiliki satu visi yang sama, membawa kehidupan Indonesia yang lebih bebas dan merdeka dari pelbagai kronika tanah air.
Akan tetapi, dari deretan tokoh-tokoh tersebut hanya didominasi oleh wajah-wajah lama yang mungkin hanya tersisa energi yang hampir habis setelah menempuh berbagai halang rintang hingga bisa mencapai posisi paling tinggi di kabinet kenegaraan tersebut. Lalu, di manakah para pemuda, bibit tunggal yang heterogen ini berada? Yang pada hakikatnya merupakan embrio pemimpin masa depan bangsa?
Mungkin saat ini pemuda hanya diposisikan sebagai pelajar saja. Hanya untuk menuntut ilmu. Bukan untuk pengemban amanah, apalagi penyiapan kaderisasi bangsa. Sekarang ini jarang terdengar organisasi-organisasi besar pemuda. Yang tersiar tidak akan jauh dari organisasi-organisasi yang ruang lingkupnya sebatas lokal saja. Sebagian besar organisasi kemahasiswaan.
Sekarang, tahun 2008 pun segera berakhir. Tak terasa, janji seia, sekata untuk mengharumkan citra Indonesia telah dikumandangkan 80 tahun silam melalui Sumpah Pemuda. Memang, pra maupun pasca Sumpah Pemuda, pemuda memiliki peran tersendiri dalam kancah pemerintahan dan ketatanegaraan. Diakui atau tidak, peran adalah sebuah makna kontras. Pengabdian dan pembobrokan.
Abdi pemuda telah banyak yang mengakui. Sedang pembobrokan, masih membayang-bayangi dan menjadi momok yang menakutkan. Mengingat kala ini sulit mencari sosok teladan dalam kepemimpinan. Malah, hampir setiap hari kita menyaksikan atau membaca di surat kabar tentang tindakan yang dilakukan oleh oknum pemerintah. Sebut saja korupsi dan tindak asusila. Hal ini memberi efek buruk terhadap ketertarikan pemuda untuk masuk ke dalam tatanan pemerintahan, karena rasa tersebut akan berkurang bahkan hilang sama sekali.
Tak hanya itu, di saat degradasi penerus bangsa, kita harus mampu melawan degradasi moral terlebih dahulu. Pemuda yang notabene masih memiliki pemikiran dan emosi yang labil, menjadi target bagi oknum-oknum tindak kriminal.
Melihat penayangan di televisi, setiap hari ada saja yang melanggar norma. Bahkan akibat ditayangkan di siang hari, memberi dampak yang buruk bagi anak yang memang rasa ingin tahu dan ingin mencobanya lebih tinggi. Mereka akan mencoba tindakan tersebut!
Sebelum masalah semakin pelik dan golongan tua belum kehabisan semangat kepemimpinan, ada baiknya para pemuda mulai berkaca diri, apakah yang akan saya berikan sebagai konstribusi tunas bangsa?
Namun tetap, semua tak bisa berjalan sendiri. Mari bersama saling rangkul untuk menata tatanan bangsa dengan lebih baik. Aku ingin sekali memberi andil dalam pergerakan reformasi ini. Akan tetapi, aku tetap membutuhkan pegangan dan arahan agar apa yang aku lakukan tidak salah kaprah.
Aku beruntung bisa sekolah di tempat yang mengimbangi pelajarnya antara akademik dan organisasi. Di sekolahku, SMA Al Muttaqin Fullday School & Moving Class System Tasikmalaya, sejak kelas X seluruh siswa sering dibekali dengan motivasi, teori, maupun aplikasi tentang keorganisasian. Sejak awal tahun pelajaran baru, sudah sering diadakan LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa). Bukan guru yang memprakarsai, namun kakak kelas. LDKS ini dilaksanakan pada saat bulan Ramadhan, menjelang diselenggarakannya kegiatan perlombaan tahunan, menjelang kaderisasi OSIS, hingga menjelang MOPD. Pernah juga diadakan LDKS yang diselenggarakan oleh alumni dalam bentuk mabit (malam bina iman dan taqwa).
Selain itu, dalam sistem pemilihan OSIS, mengikuti tata aturan yang dibuat untuk pemilihan presiden dan DPR. Struktur OSIS pun dibuat seperti system negara. Ketua OSIS disebut presiden dan ketua seksi disebut menteri. Nama seksinya pun diubah menjadi departemen yang membidangi kompartemen dan biro.
Untuk memperluas pengetahuan dan jaringan, kami tak hanya dengan SMA, namun dengan universitas, instansi pemerintahan, media masa, dan organisasi-organisasi eksternal yang berkaitan dengan program. Berdasar pada pengalaman, setiap tahun kami memperluas jaringan pada saat studi ilmiah. Di sini, kami bisa bertemu langsung dengan tokoh suatu profesi dan bagi yang memiliki cita-cita sama dengan profesi tersebut, bisa mengorek lebih dalam lagi dengan bertanya. Secara tidak langsung, hal ini sudah memancing rasa ingin tahu dan daya kritis pelajar.
Mungkin, sekilas struktur di sekolahku bisa menginspirasi bahkan memberikan gagasan baru bagaimana caranaya untuk menggaet kader-kader pemimpin bangsa. Menurutku, pemuda maupun pemerintah jangan hanya terfokus pada bagaimana caranya menjadi kepala pemerintahan, namun juga menyiapkan setidaknya praktisi pendidikan, ekonom, budayawan, sosiolog, teknisi, dan kesehatan. Dan ini harus sudah mulai digagas sedari dini. Memang, dibutuhkan kepala negara, namun untuk mengurangi dan mengantisipasi permasalahan yang lebih rumit, kita juga harus sudah mempersiapkan ahli masing-masing bidang. Kebanyakan yang terjadi di Indonesia, spesifikasi keilmuan yang dimilikinya tidak jelas karena tidak terfokus pada satu tujuan. Misalnya pelajar jurusan pengetahuan alam malah kuliah di jurusan ekonomi.
Namun, ada hal yang cukup kompleks dan apabila dilupakan akan sangat berbahaya, yakni rasa cinta terhadap tanah air. Benar apa yang Bapak Adhyaksa Dault saat aku wawancara di Mesjid Agung Tasikmalaya tahun 2006 yang lalu, bahwa hal utama yang perlu dilakukan oleh pelajar adalah nation and character building.
Kini, tak terasa, masa kepemimpinan Presiden SBY sudah mencapai deadline. Isu-isu politik mulai berhembus dan perbincangan hangat di kalangan politikus maupun masyarakat. Tahun 2009 nanti penduduk Indonesia akan menyaksikan bersama, siapakah yang akan menjadi pemimpin pembawa perubahan berikutnya. Masih didominasi oleh golongan tua atau sudah ada regenerasi?
Meskipun seandainya saat ini belum banyak yang menjadi calon pemimpin masa depan Indonesia, setidaknya keterlambatan ini harus secepatnya diantisipasi agar tidak ada keterlambatan-keterlambatan yang lainnya. Mari mulai dari diri sendiri untuk mengubah cara pandang dan pemikiran bahwa hidup kita itu tidak hanya untuk diri sendiri, akan tetapi untuk mengabdi kepada tanah air dan bangsa.
Yakinlah bahwa Sumpah Pemuda itu tak hanya menjadi tulisan dan sisa sejarah masa lalu. Namun menjadi semangat dan motivasi serta ciri kehidupan yang berbangsa. Hiduplah pemuda, bangun Indonesia kita!
Sabtu, 2009 Maret 07
Sebuah potret tanda kehidupan metro mulai bergerilya menimpa dunia buhun. Namun prospektivitas hal tersebut tak bisa begitu dinikmati oleh saudara kita yang terdengkur di pinggiran. Yang menunggu suapan dari saudaranya yang diamanati finansial berlebih.
Adalah bocah-bocah cilik tanpa busana saling adu air yang memancar lewat poros kran air di halaman mesjid Agung Tasikmalaya. Mereka tak pedulikan orang-orang yang berlalu-lalang lintasi trotoar, dan yang beribadah (dan melepas lelah sesaat, sepertinya). Miris juga melihatnya. Mungkin mereka berkeinginan untuk berenang di kolam renang. Namun apa daya, untuk makan sehari-hari saja tenaga mereka pun ikut dikerahkan.
Tak jauh dari ‘tempat bermain dadakan’ tersebut, seorang ibu bersama anak perempuannya yang berusia lebih muda dari bocah-bocah yang sedang bermain air, duduk di selasar mesjid dengan setumpuk baju dan sebuah karung di sampingnya. Bu Tati namanya. Sesekali matanya memperhatikan keasyikan mereka. Barangkali, takut terjadi apa-apa dengan para bocah. Jika tidak, matanya menerawang dengan sorotan penuh harap dan mimpi-mimpi yang masih terpendam. Sedang si Cantik duduk manis di pinggir ibunya sambil memegang sebuah mainan di tangannya.
Sempat saya berbincang dengan beliau, bercerita tentang episode demi episode drama memoriannya yang melewati buasnya kehidupan. Di tengah himpitan ekonomi dengan pengetahuan serta keterampilan yang terbatas, beliau memanfaatkan separuh raga dan kebiasaan buruk masyarakat yang masih melekat sampai sekarang.
Ya, beliau adalah seorang pemulung yang biasa bekerja di mesjid Agung dan sekitarnya. Memungut satu persatu sampah yang berserakan dan dimasukkannya ke dalam karung yang biasa beliau bawa sendiri. Bersama kawannya yang seprofesi, beliau mulai bekerja mendahului kokok ayam hingga menjelang magrib. Sayang, meskipun sudah bekerja menembus waktu, berkawan dengan debu, serta terkadang harus melawan hujan yang menyerbu, upah yang didapat tak begitu sebanding dengan apa yang telah beliau korbankan setiap harinya. Hanya Rp 8.000,00, dan penghasilannya akan meningkat jikalau banyak acara besar. Itupun hanya mencapai Rp 25.000,00.
Salah seorang bocah yang sedang bermain itu adalah anaknya. Sayang, saya lupa siapa nama anak itu. Yang pasti dia masih tercatat sebagai siswa salah satu SD di Kota Tasikmalaya dan duduk di kelas III.
“Itu anak saya.” tunjuknya ke arah sang buah hati. Saya pun menoleh, “terlihat asyik dunia mereka,” menggumam dalam hati. Memang itu hakikat anak-anak yang sesungguhnya, bukanlah memeras tenaga untuk mencari uang.
“Dia sekolah tidak, Bu?” saya bertanya dengan sedikit hati-hati. Takut beliau merasa tersinggung. “Alhamdulillah, meskipun saya hanya seorang pemulung, semangat saya untuk menyekolahkan anak-anak begitu besar. Saya tidak ingin anak-anak menjadi seperti ibunya lagi.”akunya. Tak ada gurat sedih dari rautnya, hanya ketabahan dan ketegaran menempuh universitas kehidupan.
“Sudah kelas berapa?"
“Sudah kelas III. Saya berharap bisa menyekolahkannya hingga kuliah. Sedang kakak-kakaknya tamatan SMA dan SMP. Yang tamat SMA sedang di Jakarta bersama Bapaknya. Dan yang tamatan SMP masih di Tasik. Sayang, dianya ‘g mau nerusin sekolah.” rautnya terlihat lebih masam dan muram dari sebelumnya.
Perbincangan berlanjut. Obrolan kami semakin hangat. Cita-cita luhurnya membuat hati bergetar dan tertunduk malu. Malu karena kesempatan yang Allah berikan lebih lapang daripada peluang yang didapat oleh bocah-bocah yang menjadi korban ketimpangan.
Oleh karena itu, beliau tidak pernah lelah untuk memotivasi anak-anaknya untuk selalu berjuang dalam memperoleh apa yang menjadi mimpi dan hak sebagai anak. Untunglah, bocah-bocahnya tidak merasa minder dengan kondisinya yang tak seberuntung kawan-kawannya yang lain dan masih menaruh hormat kepada orang tua. Bahkan, setiap pulang sekolah, dia mencari peruntungan di jalanan dengan menyumbangsihkan suaranya dari toko ke toko, dari mobil yang satu ke mobil yang lain untuk menambah kebutuhan sekolah dan uang saku serta tabungannya.
Mengenai biaya administrasi sekolah, beliau mengaku mendapat bantuan melalui beasiswa dan bantuan dari pemerintah yang disebut Biaya Operasional Sekolah (BOS). Sehingga bebannya pun tak begitu berat untuk meraih bintang yang masih menggantung di langit harapan.
Mengapa penulis menceritakan terlebih dahulu cuplikan perbincangan mengenai salah satu potret kehidupan kaum miskin di sekitar kita? Adalah sebuah edukasi yang sungguh luar biasa yang bisa dipetik dari sana. Banyak solusi yang bisa membantu memecahkan masalah yang sesungguhnya merupakan pilar menuju Indonesia yang lebih sejahtera.
Zakat dan kemiskinan adalah sebuah korelasi yang bertentangan namun jika dijalankan dengan baik maka akan menciptakan perpaduan yang simbiosis mutualisme.
Sebagian ulama fiqh mengungkapkan bahwa sesungguhnya sadaqah yang wajib itu adalah zakat. Dalam hadits Rasulullah SAW memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqoh dengan hartanya, beliau bersabda : "Setiap tasbih adalah shadaqoh, setiap takbir adalah shadaqoh, setiap tahmid adalah shadaqoh, setiap tahlil adalah shadaqoh, amar ma'ruf adalah shadaqoh, nahi munkar adalah shadaqoh, dan menyalurkan syahwatnya pada istri adalah shadaqoh". Shadaqoh juga bisa diartikan sebagai ungkapan kejujuran (shiddiq) iman seseorang.
Pendidikan merupakan kunci utama dan sebagai alat ukur kompetensi dan kesejahteraan seseorang. Bahkan dalam hadits pun dikatakan bahwa “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslimin dan muslimat yang beriman” karena dalam hadits lain pun diterangkan sersungguhnya “Barang siapa yang ingin berbahagia di dunia maka dengan ilmu, barang siapa yang ingin berbahagia di akhirat maka dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin keduanya maka dengan ilmu”.
Namun sayang, di zaman ini uang telah menjadi salah satu standar baik dan buruk, serta bagus dan jeleknya sesuatu. Termasuk pendidikan di dalamnya. Terbukti berdasarkan pada data statistika pada tahun 2002 terdapat sekira 1,8 juta anak SD berusia 7-12 tahun dan 4,8 juta anak usia 13-15 tahun yang tidak sekolah. Dan meskipun kini proses Wajar Dikdas (Wajib Belajar Pendidikan Dasar) 9 tahun sudah mulai gencar digalakkan di setiap kabupaten/kota di Indonesia, pada tahun ajaran 2005-2006 dan 2006-2007 sebanyak 615.411 mutiara terpendam harus terkena drop out karena masalah biaya pendidikan yang terus melonjak.
Gubernur Jawa Barat, Bapak Hendryawan, Lc. yang ditemui di Ciamis mengungkapkan memang tidak ada pendidikan yang murah. “Justru dengan adanya bantuan pemerintah sebesar 20% pendidikan di Indonesia akan terbantu untuk lebih baik. Hal ini sebagai bukti perhatian pemerintah terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia.” terangnya.
Untuk mengantisipasi gangguan kesejahteraan masyarakat dalam hal pengembangan investasi Sumber Daya Manusia (SDM) dan masyarakat, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat, Bapak Aburizal Bakrie mengungkapkan saat berdiskusi dengan penulis sesaat setelah Laporan Capaian Kinerja Menko Kesra Di hadapan Media Elektronik dan Media Cetak Nasional bahwa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat, pemerintah mengklasifikasikan dalam beberapa klaster sesuai dengan persentase pengelolanya.
Klaster I, yaitu klaster yang diurusi langsung oleh pemerintah. Beberapa hal yang termasuk klaster I adalah raskin (beras miskin),BOS (Biaya Operasional Sekolah), BLT (Bantuan Langsung Tunai), dan Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat).
Pendidikan, dalam hal ini difasilitasi melalui BOS, termasuk ke dalam klaster pertama karena merupakan salah satu hal yang sangat krusial dan perlu diperhatikan lebih karena menyangkut masa depan bangsa.
Sedang klaster II merupakan klaster yang persentasi pengelolaannya adalah 50:50 antara pemerintah dengan masyarakat yang salah satu contohnya adalah PNPM Mandiri. Dan klaster III dipegang secara keseluruhan oleh masyarakat sedangkan pemerintah hanya mengawasi. Salah satunya adalah kredit usaha rakyat.
Dengan adanya rasa saling percaya, konsep yang jelas, serta dipegang oleh orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi, insya Allah tidak akan ada lagi masyarakat yang tuna karya serta generasi-generasi muda pun bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya.
Kembali kepada hakikat perpaduan antara zakat dengan kemiskinan yang memiliki ikatan simbiosis mutualisme. Baik pemerintah maupun masyarakat menengah ke atas bisa berzakat kepada masyarakat yang masih tergolong menengah ke bawah dalam bentuk harta maupun finansial sedangkan masyarakat tingkat bawah bisa berzakat lewat tasbih, takbir, tahmid, maupun tahlil.
Yang saya maksud lewat tasbih, takbir, tahmid, maupun tahlil di sini adalah dalam bentuk lisan, pikiran, hati, dan perbuatan. Segala sikap, pikiran, dan perbuatan kaum miskin ini harus merefleksi makna tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil. Jika hal ini terwujud dalam kehidupan sehari-hari, maka Indonesia akan terbebas dari yang namanya penyakit masyarakat.
Sedang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang bisa melekat seumur hidup dan tidak akan lekang dimakan waktu, kita bisa berzakat melalui zakat pendidikan. Maksud saya dengan menebar dan mengamalkan ilmu, masyarakat berbagai kalangan bisa melakukannya. Karena sesungguhnya yang merupakan katagori miskin itu bukanlah hanya miskin harta namun juga miskin ilmu.
Salah seorang cendikiawan Indonesia pun pernah melontarkan sebuah gagasan mengenai zakat pendidikan ini. Namun beliau menamakannya zakat profesi. Salah satu alasannya karena menangkap spirit keadilan Islam yang melarang harta hanya berputar di kelompok kaya saja (QS Al-Hasyir:7), orang bertaqwa adalah mereka yang menyadari bahwa dalam harta kekayaan yang dimiliki ada hak bagi gongan fakir dan miskin (QS Az-Zariyat:19), perhatian penuh harus dialamatkan kepada lapisan masyarakat yang hidup wajar sebagai manusia (QS Al-Haqqah:33-34; Al-Fajr:17-18; Al-Maun:1-2 dst).
Kesadaran berzakat memang belum melekat dan dijadikan kebiasaan masyarakat, khususnya di Tasikmalaya yang notabene kota Santri. Melalui sedikit curahan kata ini, saya berharap takkan ada lagi kemiskinan di negeri ini, baik karena miskin harta maupun miskin ilmu. Semoga takkan ada lagi bocah-bocah yang harus memeras tenaga demi sesuap nasi dan orang-orang yang namprakkeun leungeun tanpa usaha apapun. Dengan keyakinan yang kuat dan tingkat kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar, Insya Allah akan mengantarkan diri kita ke dalam kesempurnaan iman. Amin.
Kamis, 2009 Maret 05
Padet abnget jadwal hari ini.
Bangunnya kesiangan sih..
Baru tdiur jam 3 pagi.
Sejak pagi hariku sudah dipenuhi dengan pelbagai kertas dan ribuan huruf yang berujung sebuah makna. Sebuah tujuan demi sesuatu yang harus disukseskan dengan ikhtiar dan doa. Hingga mencapai zero mind proccess.
Kepincangan mulai bergejolak lagi. Mmhh.. Semoga segera berujung.
Siangnya, dari MTs At Taqwa Bekasi datang mengunjungi Al Muttaqin.
Saya cukup terharu.
Mereka begitu apresiatif terhadap acara Al Muttaqin, khususnya terhadap Java Student Competition.
Tak heran, mereka bawa pasukan sekira 7 orang yang akan tinggal dari AMQ.
Rabu, 2009 Maret 04

Senin biz hearing with Mayor of Tasikmalaya..
AMQ is clever, saurna teh..
Beliau sangat mendukung acara kami..
Makanya, di opening ceremony'y pun beliau menyempatkan waktu untuk hadir..
O, y..
Jumat, 27 Februarinya kami bertemu di depan Depdiknas Gedung A..
Kami dikenalkan kepada pejabat penting yang hadir dalam kesempatan kali itu.
"They are our students from SMA Al Muttaqin. They are very clever.."
Di sana ada tokoh dari Depdiknas, khususnya yang mengurusi bagian perguruan tinggi..
Betapa senang. Walikota serasa ayah sendiri.. =)
Saat hearing pun, beliau sangat respon terhadap acara yang seperti ini.
Bahkan sebelum pulang, kami malah disuruh bawa dua ikat lengkeng yang seharusnya adalah sajian untuk beliau.. =)
Hati adalah abstraktif yang buram dan bias.
Tak bisa untuk dielus dengn sapuan kasar.
Hanya dengan ranah salju.
Selasa, 2009 Maret 03
meski intensitas menulis saya semakin berkurang,
ada sebuah makna di balik nurani yang ingin berontak.
Jangan sampai yang kemarin terulang.
Semangat terus.
Dunia kamu memang yang kemarin.
Bukan yang sekarang.
Yang terombang-ambing oleh keadaan. =)
Senin, 2009 Maret 02
Dibangun di atas tanah santri, di tengah hawa pendidikan yang masih belum terlalu menggeliat. Adalah SMA Al Muttaqin yang memberikan setetes dari kegersangan pendidikan yang mengakar di ranah Tasikmalaya.
Energi membangun umat bangsa yang berkualitas dan berinovasi saling bersinergi dengan visi yang tertanam sejak masih dalam ‘timangan’. Creating culture of excellent. Sebuah kalimat sederhana namun mengandung makna dan mengundang pemikiran kritis dan strategis dalam mewujudkan mimpi besar tersebut.
Namun mimpi layaknya badan. Di saat salah satu pincang, yang lain akan membantu untuk mengobati agar menjadi suatu kesatuan kembali. Jika diterjemahkan, untuk menata kesuksesan, sumber kekuatan tak hanya berada dari dari satu titik, namun harus juga sealur dan selangkah dengan yang lainnya.
Oleh karena itu, untuk mengkombinasikan menuju Creating culture of exellent ini dibuat misi, strategi, dan evaluasi sehingga terbentuk kesinkronan meski dengan jalan yang berbeda.
Siswa adalah salah satu komponen yang memberi kontribusi dalam penggerakan visi. Dalam naungan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), mimpi dan aspirasi siswa bisa diasah dan disalurkan dengan baik.
Tak heran, sejak tahun pertama, yakni 2003, OSIS SMA Al Muttaqin selalu berkoar-koar menyuarakan aspirasi demi kemajuan pendidikan bangsa, baik secara internal maupun eksternal. Selain itu, event organizer dan seminar selalu dilaksanakan setiap tahunnya, bahkan sejak angkatan pertama.
Kini, di bawah kepemimpinan R. M. Abadi dan Premanahadi, OSIS angkatan 5 dan 6 mengadakan Java Student Competition (JSC) yang diselenggatakan se-Pulau Jawa.
Mimpi untuk menyelenggarakan acara memang sudah bergulir sejak OSIS masa jihad 2008-2009 mengadakan rapat kerja. Bahkan dikarenakan ini diselenggarakan se-Pulau Jawa dan melibatkan banyak departemen OSIS, maka dijadikan sebagai program OSIS utama tahun ini.
***
Kamis, 2009 Februari 19
Selasa, 2009 Februari 03
Hanya segelintir orang yang bercita menjadi guru. Bisa jadi, pelajar merasa lebih bergengsi jika menjadi pengusaha, dokter, atau bahkan abdi negara. Hampir semua berlomba agar bisa menembus dan berhasil mengikuti mimpi-mimpi yang terkesan ikut-ikutan.
Pada akhirnya, 'balasan' ketidakpercayadirian itulah yang 'melemparkan' dirinya pada kehidupan yang dianggap masuk ke sebuah planet asing di jagat.
Terkesan naif memang. Tapi, toh itu yang kebanyakan terjadi!
...
Namun, setelah pemerintah 'meninabobokan' suatu yang krusial yang disebut dengan nama pendidikan, tak sedikit yang berbondong-bondong untuk memimpikannya. Yang menjilat ludahnya sendiri.
Tapi semoga itu hanya dalam pikiran terburuk saya yang paling kasar.
Dan kehidupan akan semakin jelas dengan apa yang harus segera dilucuti!
>>sebenarnya aku tak tahu dengan apa yang sedang aku tulis ini.
mengalir begitu saja.
tanpa alur pasti.
dengan mimpi yang harus diwujudi.
Kantor Keramat, 12.26 am
4 feb 2009
Sabtu, 2009 Januari 31
hari ini
saya ingin menghentikan terjunan dari hidung yang terus mengalir.
saya ingin hidup lebih dari 70000000 tahun.
saya ingin menjadi menteri sosial.
saya ingin memiliki apa yang tidak orang lain miliki.
saya ingin masuk surga.
saya ingin lolos ui.
saya ingin ke inggris.
saya ingin ke belanda.
saya ingin selamatkan palestina.
saya ingin bahagiakan orang tua.
saya ingin menjadi teladan keluarga.
saya ingin sukses.
saya ingin menuntut ilmu.
saya ingin menjadi delia yang dulu lagi.
saya ingin menjadi dubes.
saya ingin menjadi wartawan.
saya ingin menjadi pemberani.
saya ingin bertemu dengan imam mahdi.
saya ingin terus berpegang pada Al Quran dan Hadits.
saya ingin hafal 30 juz Al Quran.
saya ingin selalu dalam lindungan Allah SWT.
saya ingin siswa SMA Al Muttaqin sedikit selalu.
saya ingin Indonesia menjadi negara maju.
saya ingin menguasai banyak bahasa.
saya ingin rangking satu.
saya ingin JSC sukses.
saya ingin GSM terbit agi.
saya ingin ketemu pejabat negara.
saya ingin hidup sederhana.
saya ingin punya perpustakaan bawah tanah.
saya ingin warung kejujuran bisa buka.
saya ingin jsc tak kekurangan uang.
saya ingin konsep jsc tak ada yang dihapus.
saya ingin menteri" bisa benar" beri piala.
saya ingin surat saya kepada Presiden dan Pak Dino Patti Djalal dibalas.
saya ingin birokrasi pemerintah dipermudah.
saya ingin Indonesia berpendidikan.
saya ingin membuat buku.
saya ingin menyelesaikan tugas.
saya ingin membaca buku.
saya ingin jadi juara puisi.
saya ingin bisa nyanyi.
saya ingin jadi pengusaha.
saya ingin jadi direktur.
saya ingin membangun perpustakaan bawah tanah.
saya ingin bisa nge-drum.
saya ingin bisa ngegitar.
saya ingin tak ada yang korupsi lagi.
saya ingin jadi sahabat kucing.
saya ingin rajin shalat tahajud.
saya ingin selesaikan proposal.
saya ingin selesaikan surat.
saya ingin selesaikan sertifikat.
saya ingin pmdk.
saya ingin tiket to ugm ada yang pakai hari ini.
saya ingin turun dari keputerian.
saya ingin teman-teman cewek bisa pake kerudung semua.
saya ingin makan soto.
saya ingin beli baju.
saya ingin beli sepatu.
saya ingin ketemu temen-temen.
saya ingin balik ke sekolah.
saya ingin sembuh.
saya ingin selalu ingat, bukan pelupa.
saya ingin selesaikan film.
saya ingin menepati janji ke Pak Agus.
saya ingin nilai di atas rata-rata semua.
saya ingin masuk teater lagi.
saya ingin selamatkan generasi muda.
saya ingin selalu bersahabat dengan yang lain.
saya ingin tak pemalu lagi.
saya ingin bisa dibanggakan.
saya ingin bertemu tangga.
saya ingin dermawan.
saya ingin nikmati hidup.
saya ingin selesaikan naskah.
saya ingin jadi pemimpin umum.
saya ingin masuk pelbagai perguruan tinggi.
saya ingin mandi.
saya ingin minum.
saya ingin mudah menghafal biologi.
saya ingin banyak teman.
saya ingin mimpi saya terwujud.
saya ingin muntah.
saya ingin batuk.
saya ingin punya buku kayak dewi lestari.
saya ingin jerawat hilang.
saya ingin punya laptop.
saya ingin keramas.
saya ingin bigbabol strawberry cream.
saya ingin ketemu lagi pak amien rais.
saya ingin pidato lagi.
saya ingin bayar mess.
saya ingin cuci piring.
saya ingin nonton.
saya ingin semua ini terwujud.
sayang, jika ini hanya ingin yang hanya angan!
Rabu, 2009 Januari 28
Minggu, 2009 Januari 25
Pak Gumilar
World Class University
Ruangan ber-AC, dengan ukuran sekira 12 m x 6 m di lantai dua gedung rektorat menjadi saksi bisu kebersamaan kami, guru dan siswa SMA Al Muttaqin bersama rektor, Bapak Dr. der Soz Gumilar Rusliwa Somantri secara langsung. Dalam kurun waktu yang tak lebih dari empat puluh lima menit, kami bisa berdiskusi mengenai pendidikan dan mengenal lebih jauh serta mengetahui informasi terbaru mengenai universitas terbaik di Indonesia 2008 ini.
Kesempatan kedua bersua dengan beliau tak kami lewatkan. Dengan perasaan bimbang, benar atau tidak bahwa seorang yang sedang berjalan di hadapan kami itu adalah Pak Rektor. Untunglah, bimbang tersebut tak terjadi begitu lama. Kami segera tersadar dan ‘mencegat’ beliau dengan senyum dan sapaan. Dengan ramah beliau membalas sapaan kami.
“Kami dari SMA Al Muttaqin Tasikmalaya. Beberapa bulan yang lalu kami pernah bertemu dan berdiskusi dengan Bapak di Unsil (Universitas Siliwangi-red).” Mencoba membuka kembali memori beliau.
Beliau mengangguk dan melirik jam tangannya. Setelah itu, beliau mengangkat kepala dan mengajak kami, “Mari ikut ke ruangan saya. Kebetulan saya punya waktu luang sebelum jam 10.” Tanpa pikir panjang, kami mengangguk seraya mengucapkan terima kasih dan mengikuti beliau ke dalam lift khusus rektor.
Berdiskusi Luas
Satu persatu, tegap langkah kami menuju ruangan kerja Pak Rektor. Di sudut kanan, sebuah rak besar berisi buku-buku berjajar rapi. Di depannya, sofa berwarna abu-abu disediakan. Sedang, kami duduk di meja meeting yang berada di pusat ruangan.
Sepertinya, ada secercah kerinduan terhadap kampung halaman tercinta, Tasikmalaya. Terbukti, pertanyaan pertama yang beliau lontarkan adalah keadaan Tasikmalaya. “Bagaimana Tasik sekarang? Ada kabar apa?” tanya beliau membuka kebisuan sambil menandatangani setumpuk kertas di dalam map.
Merasa Tasikmalaya adem-adem saja, kami pun tak banyak komentar. “Tasik baik-baik saja. Mengalir seperti air.” Jawab salah seorang dari siswa.
“Walikotanya baru ganti, ya. Pak Syarief. Bagaimana Tasik selama oleh Pak Syarief?” Tanya beliau lagi. “Alhamdulillah, semakin membaik. Dalam hal pendidikan, Kota Tasikmalaya menjadi salah satu kota yang sudah mewajibkan belajar minimal 12 tahun. Di Indonesia, kabupaten maupun kota yang sudah menerapkan aturan ini baru sebagian kecil saja. Karena memang dari pemerintah baru mewajibkan belajar minimal 9 tahun.” Terang Pak In In, Wakasek Kesiswaan SMA Al Muttaqin.
“Bagus kalau begitu.” Ucap beliau. “Di Tasik sedang musim hujan tidak?” lanjutnya. Kami mengangguk. “Harus rajin tanam pohon, ya. Biar ga banjir.” “Go green, Pak.” timpal kami. “Kebetulan salah seorang siswa yang ikut adalah ketua departemen lingkungan hidup. Ada Ari, yang itu.” Sambung Pak In In sambil menunjuk Ari. Ari mengangguk.
Langsung beliau memperkenalkan kami secara umum. “Yang ikut pada kesempatan kali ini cukup lengkap. Ada yang dari MPK, Sekjen OSIS, Departemen Keuangan, Departemen Komunikasi, Informasi, dan Kerjasama, Departemen Sains dan Teknologi, juga dari Panitia JSC. Di sekolah kami memang untuk bidang-bidang OSIS menggunakan departemen, biar serasa memimpin negara.” Terang Pak In In yang diamini Pak Agus, Ketua Divisi Sains SMA Al Muttaqin.
Sebagai universitas yang sedang meniti menuju kelas dunia, dengan dikomandoi oleh Pak Gumilar serta dibantu tenaga dan pemikiran muda, dari segi fasilitas, pendidikan, tenaga pengajar, hingga prospek ke depannya pun sudah menuju kelas dunia.
“Saat ini sedang banyak renovasi. Sekarang UI sedang merancang e-library dengan luas sekitar 20.000 m2. Buku yang disediakannya pun mencapai 5 juta buah dengan persentasi buku berbahasa asing sebesar kurang lebih 80%.” Tutur Pak Gumilar.
Selain itu, gymnasium, stadion, ruang rektorat, dan beberapa fasilitas lainnya sedang diperbaiki dan dilengkapi.
Untuk menyejajarkan kualitas para mahasiswa UI, doktrin yang diberikan ialah harus menjadi pelopor, penggerak, peneliti, dan harus mampu membangun bangsa. ”Dengan kata lain harus menjadi empower.”
Ditambahkan oleh Ibu Roomilda yang akrab dipanggil Bu Ida dari Bidang Kehumasan dalam rangka study ilmiah bersama seluruh siswa SMA Al Muttaqin di Balai Sidang UI, hingga saat ini UI telah mendirikan kelas Bahasa Inggris, menyelenggarakan seminar maupun workshop dengan mengundang tokoh-tokoh dalam negeri maupun luar negeri, public lecture, bekerjasama dengan perguruan tinggi manca negara, pertukaran mahasiswa, bahkan lulusannya pun banyak yang langsung mendapat pekerjaan baik dari dalam maupun luar negeri.
“Persentasi dosennya pun lebih banyak yang sudah bergelar professor, bahkan UI dinobatkan sebagai universitas yang jumlah dosen bergelar profesornya tertinggi.” Terangnya.
Sebelum mengakhiri diskusi kami, Pak Gumilar sempat menanyakan nama dan cita-cita siswa. “Adik ini, siapa namanya?” Tanya beliau secara tiba-tiba kepada saya. Kebetulan saya yang paling berdekatan duduknya dengan beliau.
“Delia.” Jawab saya. “Cita-citanya pengen jadi apa?” Tanya beliau lagi. “Ingin menjadi sosiolog.” Menjawab dengan yakin. Sesungguhnya di dalam hati ingin sekali berujar ‘Saya ingin menjadi Menteri Sosial.’ “Oh, berarti jadi rector, ya.” Timpal beliau dengan seling tawa. Pertanyaan yang sama beliau lontarkan lagi kepada teman saya yang lain.”
Sungguh luar biasa apa yang beliau prediksi. Sepertinya darah ilmu sosiologinya masih sangat kental di dalam dirinya. Apa yang beliau lontarkan memang cukup sesuai dengan fakta.
Selain itu, ada sebuah pesan yang Bapak Gumilar sampaikan sebelum mengakhiri diskusi kami. “Jika Adik minimal juara olimpiade nasional, bisa langsung masuk UI. Jika juara Tilawatil Quran pun sama, Adik bisa masuk UI melalui jalur PPKB. Kini, UI telah bersiap menunggu mahasiswa tahun 2009 melalui SIMAK, SNMPTN, PPKB, dan UMB.”
“Adik, maaf belum bisa ngobrol banyak. Ditunggu ya di UI di tahun … 2010 ya?”
Kamipun mengakhiri meneropong dunia depan. Untuk mengabadikan, dua jepretan kami kantongi.
S. A. Deliabilda
XI Exact 2
GSM / Q Smart AMQ
jepang
Terima kasih tahun 2008. Selamat datang 2009. = )
Tahun 2008 telah beranjak sejak 31 Desember silam. Sudah saatnya kita memulai kehidupan bersama tahun 2009. Banyak hal yang terjadi selama setahun lalu. Tak sedikit perubahan yang dialami. Tawa diselingi luka. Duka temani suka. Terang bayangi gelap.
Adalah asa yang selalu menguatkan semangat yang hampir rapuh itu. Dan dengan usaha untuk mewujudkannya. Sudah hukum alam bahwa manusia tidaklah pernah puas dengan apa yang telah dimiliki. Bukan hanya karena dorongan nafsu belaka, namun juga akibat tuntutan kehidupan yang memaksa untuk tidak tinggal diam.
Kehidupan memang ganas. Kadang merodi manusia. Membuat manusia bekerja membabi buta hanya untuk bisa bertahan hidup. Namun, tetap saja kehidupan tidak akan bisa ‘hidup’ jika tidak dibarengi dengan karakter-karakter untuk tameng tantangan yang bisa membuat stress, bahkan gila! Hanya untuk sebuah kata. Sukses.
Salah satu bangsa yang memiliki daya tahan stress tinggi adalah Jepang. Bangsa yang sepertinya sudah siap menjawab berbagai tantangan zaman. Padahal, melihat sejarahnya masa lalu, Jepang merupakan salah satu bangsa yang pernah dijajah dan tidak memiliki banyak sumber daya alam. Bahkan dua kota besar, Hirosima dan Nagasaki pernah dibom saat detik terakhir kemerdekaan Indonesia.
Tapi, mengapa Jepang bisa melesat jauh meninggalkan negara-negara berkembang lainnya dan memposisikan diri sebagai negara maju dan salah satu Macan Asia?
10 Resep
Beberapa waktu ke belakang, Saba Sakola yang diwakili Q Smart SMA Al Muttaqin mendapat email dari Pak Romi Satria Wahono, suami dari salah seorang guru yang pernah mengabdi di SMA Al Muttaqin dan kini sedang bekerja di Jepang.
Dalam email tersebut, beliau lampirkan pula sepuluh resep sukses bangsa Jepang yang beliau tangkap di seberang sana. Resep ini bisa menjadi salah satu alernatif untuk perubahan di tahun mendatang. Orang Jepang aja bisa, masa Indonesia tidak?!
Resep pertama adalah kerja keras. Orang Jepang memang sangat terkenal dengan kegigihan dan kerja kerasnya dalam bekerja. Saking gigihnya, rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun. Berbeda dengan negara maju lainnya seperti Amerika yang hanya 1957 jam/tahun, Inggris 1911 jam/tahun, Jerman 1870 jam/tahun, atau Perancis 1680 jam/tahun. Bahkan seorang pegawai Jepang bisa menghasilkan sebuha mobil hanya dalam kurun 9 hari sedang negara lain selama 47 hari untuk membuat mobil yang sama.
Karena begitu berpegang pada prinsip kerja kerasnya itulah pulang awal waktu merupakan hal tabu bagi mereka. Pulang cepat bisa dikatakan memalukan dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk yang tidak dibutuhkan oleh perusahaan.
Sifat malu itu memang merupakan salah satu budaya turun temurun dari leluhurnya. Sejak era samurai, hara-kiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut-red) sudah menjadi ritual tatkala kalah dalam pertempuran.
Di dunia modern, wacananya bergeser ke fenomena mengundurkan diri bagi pejabat yang terlibat masalah atau merasa gagal dalam menjalankan tugas. Namun, rasa malu ini agak member efek negatif kepada pelajar yang sulit mengontrol diri. Di saat nilainya jelek atau tidak naik kelas, anak SD atau SMP kadang bunuh diri.
Di sisi lain, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu apabila melanggar norma ataupun aturan yang sudah menjadi kesepakatan umum.
Selain kerja keras dan malu, karakter lain yang bisa dipelajari dari orang Jepang adalah semangat hidup hemat dalam keseharian. Ada sebuah pengalaman yang agak mengherankan buat Pak Romi. Orang Jepang ramai berbelanja di supermarket sekitar pukul 19.30. Ternyata sudah menjadi hal yang lumrah bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Biasanya supermarket di Jepang memang tutup pada pukul 20.00.
Resep keempat adalah loyalitas. Sangat berbeda dengan system di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang berpindah-pindah pekerjaan. Biasanya mereka bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Sepertinya, ini merupakan implikasi dari industri Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan perusahaan.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Jepang merupakan negara yang kreatif dan inovatif. Meskipun Jepang bukanlah bangsa penemu, namun mereka mempunyai kelebihan dalam hal meracik dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati masyarakat.
Seperti kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman. Kaset tape tidak ditemukan oleh Sony, tapi yang berhasil mengembangkan dan membuilding model portable sbagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu.
Termasuk juga dalam teknik perakitan kendaraan roda empat. Sebenarnya, patennya dimiliki orang Amerika. Tetapi Jepang bisa mengembangkan industry perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.
Karakter pantang menyerah dan tahan banting juga menjadi kekuatan sukses bangsa Jepang. Puluhan tahun di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri menjadikan Jepang sebagai negara yang sangat tertinggal teknologi. Kemiskinan sumber daya alam malah membuat Jepang bermental baja. Padahal sekira 85% sumber daya alamnya merupakan impor dari luar negeri, termasuk Indonesia.
Puncak terombang-ambingnya Jepang pada tahun 1945. Mulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Kemudian disusul dengan kalahnya perang Jepang. Ditambahi gempa bumi besar di Tokyo. Namun, beberapa tahun berikutnya Jepang mulai merangkak lagi dan berhasil membangun industry otomotif dan bahkan kereta cepat (shinkansen). Yang cukup unik, ilmu dan teori di mana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
Inovasinya yang tidak pernah berhenti mungkin salah satu penyebabnya adalah budaya membaca, baik buku atupun Koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, di densha (kereta listrik) banyak dimanfaatkan untuk membaca.
Pelajaran-pelajaran sekolah pun dikemas semenarik mungkin. Banhkan, banyak penerbit yng muali membuat manga (komik bergambar) untuk materi kurikulum sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing, baik itu bahasa Inggris, Perancis, Jerman, maupun negara-negara lainnya.
Kabarnya, legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai sejak 1684 seiring dengan dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai zaman modern ini. Biasanya, terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sjak buku asing diterbitkan.
Kerja sama kelompok menjadi salah satu cara orang Jepang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Budaya di Jepang memang tidak terlalu mengakomodir kerja-kerja yang bersifat individualistik. Tak hanya dalam dunia kerja, kondisi kampus dengan penelitiannya juga seperti itu, termasuk dalam pengerjaan tugas mata kuliah. Bahkan ada anekdot bahwa “Seorang professor Jepang akan kalah dengan seorang professor Amerika, namun sepuluh professor Amerika tidak bisa mengalahkan sepuluh professor Jepang.”
Meskipun lebih mengutamakan kelompok, sejak kecil anak-anak sudah dilatih untuk mandiri. Seorang anak TK saja harus membawa tiga tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk, dan sebotol besar minuman yang meggantung di lehernya. Yochien, salah satu TK yang ada di Jepang, setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri dna bertanggungjawab terhadap barang miliknya sendiri.
Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua dengan mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. kalaupun kehabisan uang, mereka meminjam uang ke orang tua dan akan dikembalikan di bulan berikutnya.
Resep terakhir yang melekat di jiwa orang Jepang adalah tidak menghilangkan tradisi dan budayanya. Salah satunya adalah budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidka bekerja masih ada dan hidup hingga saat ini. Selain itu, budaya minta maaf masih reflek orang Jepang. Orang Jepang pun relative menghindari berkata “tidak” apabila mendapat tawaran dari orang lain.
Kesepuluh resep sukses bangsa Jepang di atas memang cukup sederhana, namun sulit untuk dilaksanakan. Sebuah perpaduan manis yang bisa mengantarkan menuju gerbang kesuksesan. Jika karakter ini kurang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, kita bisa khan dengan meracik resep-resep di atas sesuai dengan culture kita? Mari, siap hadapi tahun baru, siap hadapi tantangan baru!
S. A. Deliabilda / XI Exact 2
GSM / Q Smart
SMA Al Muttaqin
perjalanan
Masa depan adalah sebuah abstraktif yang masih menjadi tanda tanya besar yang hanya bisa dijawab oleh sang waktu. Namun, keabstrakan tersebut bisa kita raba sedari dini. Sejauh-jauhnya masa depan, tetap harus dipersiapkan dan disiasati dari sekarang. Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur utama bagi nilai-nilai vokasi, intelligent, dan emosional seseorang. Gagal memilih pendidikan bearti merencanakan kegagalan masa depan!
Perguruan tinggi adalah gerbong terakhir yang akan menentukan arah hidup kita. Untuk bekal dan investasi agar tidak salah jalur, pengenalan dan persiapannya pun harus matang benar. Maka, untuk mengarahkan minat, bakat, serta potensi siswa sejak kini, dalam tiga hari kemarin, terhitung dari Selasa, 20 Januari hingga Jumat, 23 Januari.
Dengan nama program study ilmiah, acara tahunan di tahun 2009 ini memilih daerah barat untuk dijelajahi dan diubek. Mulai dari Bandung, Jakarta, hingga ke Bogor.
Hari pertama terpusat di Bandung. Di hari ini pula, jadwal kunjungan kami begitu padat. Dikarenakan kami berangkat pada pukul 02.14, alias sebelum subuh, maka tujuan pertama kami adalah Mesjid Al Mahdiyin yang berada dipertengahan Tasikmalaya-Bandung.
Tempatnya yang luas dan campernik menjadikan mesjid ini sering dikunjungi sekedar untuk meregangkan badan sebelum melanjutkan perjalanan. Tak hanya dari kalangan masyarakat biasa, pemerintah daerah, menteri, hingga presiden pun sudah pernah menginjakkan kakinya di mesjid ini.
Kebetulan, hari terakhir dalam kunjungannya ke Tasikmalaya di bulan September tahun lalu, adalah Jumat. Selaku umat muslim yang taat, beliau bersama rengrengannya harus tetap menjalankan perintah-Nya sekalipun jadwal keseharian begitu padat.
Karena ditargetkan sore harinya harus sudah sampai lagi di Jakarta, maka untuk pelaksanaan shalat Jumat beliau laksanakan di mesjid Al Mahdiyin. Para menteri yang terlihat hadir pada saat itu adalah Menteri Pertanian, Bapak Anton, Menteri Kesehatan, Ibu Siti Fadillah, dan beberapa menteri lainnya. Bahkan gubernur Jawa Barat, Bapak Ahmad Heryawan juga hadir dalam kesempatan kali itu. Sebagian besar dari kami ingin menapaki jejak para petinggi negara Indonesia tercinta ini. Mungkin atas dasar itu pulalah kami beristirahat sejenak, shalat subuh, mandi, hingga sarapan di sana.
Sekira pukul 07.03, kami sudah bergegas lagi masuk ke bis masing-masing dan perjalanan dilanjutkan menuju kampus para abdi negara, IPDN, setelah sebelumnya ada pengarahan terlebih dahulu dari panitia.
Jarak yang ditempuh menuju kampus IPDN tidak terlalu memakan waktu, sehingga sebelum pukul delapanpun kami sudah sampai di salah satu sekolah tinggi milik pemerintah ini. Sayang, saat itu kami belum boleh masuk. Katanya, para mahasiswanya masih melaksanakan apel pagi.
Daripada kami hanya menopang dagu tak jelas, oleh karena itu kampus UNPAD Jatinangor yang berdekatan dengan IPDN kami tuju terlebih dahulu. Tak lebih dari 35 menit kami kelilingi salah satu kampus favorit ini.
( to be continue… =P )
Jumat, 2009 Januari 23
Hari pertama, Selasa 22 Januari 2009
- Berangkat pukul 02.14 WID (Waktu Indonesia Bagian Delia) =P
- Subuh, mandi pagi, dan sarapan di Al Mahdiyin
- Tujuan pertama IPDN
- Jadinya keliling UNPAD Jatinangor dulu soalnya IPDN mesti upacara dulu
- Baru bisa masuk kampus para abdi negara pada pukul +- 09.30.
Ini menjadi awal kengaretan hari pertama =(
- Langsung menuju UNPAD Dipati Ukur, ngaret
- Ke Kampus ITB, ngaret. Ada A'BeeR n t'Lisma.
Sempet ngobrol juga sama kakak-kakak kelasku yang keren itu.
- Makan siang di mobil. Mobil yang ditumpangi itu Doa Ibu. Aku kebagian bis 3.
Semuanya akhwat kelas XI. G5 memang tak terpisahkan.
- Menuju kampus UPI. Telat lagi. Nyampe hampir 16.30.
Belum lagi bis 2 yang mogoknya sampe 3kali.
- Setelah itu pergi ke P3G. Buat nginep. Aku sekamar dengan Nita dan Prisca.
- Waktu itu nyampenya jam 11 malem. Tak apalah. Yang penting sleeping beauty. -.-
- Sebelum bobo, sempet mandi, beresin baju, n dinner dulu.
- Sempet juga nyaksiin Barack Obama dilantik.
Apa yang apresiator yang diundang SCTV dengan pemikiranku sama.
Tanyain deh ke Nita.
"Dilihat dari raut wajah dan kesiapannya memimpin Amerika,
Obama lebih mendahulukan gejolak masalah yang ada di negerinya.
Mengenai Palestina dan hubungan dengan negara lainnya,
kayaknya Beliau bikin tim khusus. Jadi 'g perlu banyak tangan.
Hari kedua, Rabu, 23 Januari 2009
- Bangun sekitar jam 5. Termasuk kesiangan sich.
- Yang laen ikut kumpulan ke mesjid. Tapi penghuni kamar nomor 16 ini 'g berusik keluar.
- Pukul 6 langsung beres-beres kamar. Terus ke kumpulan di mesjid.
- Karena belum sarapan, aku buka dan makan roti di dalam forum itu.
(maaf ya guruku. Aku 'g ikutin aturannya. Laper banget waktu itu.
Makannya kemaleman. Takut mag'y kambuh lagi.)
- O ya. Dari P3G harus jalan kaki menuju bis. Sama kayak waktu malem.
Jalan kaki dari pinggir jalan ke tempat penginapan.
Sekira 300 meteran lah. Deket SMA 109 Jaksel.
- Sarapan di kampusku, kampus kuning. Universitas Indonesia.
Sama ayam lagi. Jerawatku nambah. Tapi demi perut, apa sih yang nggak. hehe..
- Bis 2 nyasar! Sempet juga aku nelpon Ilham.
- Horee.. Naik bis "Aerowisata UI". Mau ke Balai Sidang. Tapi mesti jalan lagi.
- Balai sidang itu deket Rektorat, tempat di mana para profesor dilantik katanya mah.
- Kampus UI kerend. ('g tau mungkin karena mata aku tertutup untuk melihat dunia kampus lain)
- Waktu pulang, sempet minta kartu nama Ibu Ida, humas Rektorat. Juga foto bareng.
- Bu Ida juga bakal jadi kakak kelasku lho. Soalnya dia dari FISIP.
- Sempet foto" juga.
- Menuju Menara ESQ 165. Shalat.. Shalat.. Plus ganti baju. Muw ke Dufan, Bung!
- Diajak keliling beberapa ruangan di menara ESQ 165.
- Dufan.. I'm Coming..!!
- Tornado tujuan pertama. Nangis oy. Takut jatooh..
- Terus berputar-putar di kicir-kicir.
- Cooling down dulu dengan naik roller cooster, masuk rumah kaca, n rumah miring.
- Terus naik kora-kora.
- Laper. Makan dulu. Soto dengan secuir daging nyampe 14.000 rupiah. =(
- Maenan terakhir. Arung jeram.
- Tasku basah. Di dalemnya ada hape, dompet isi uang, buku catatan sejarahku.Untung dalemnya 'g kebasahan. =)
- Sempet masuk souvenir shop. Mahal!
- Cuma beli pulpen, kaos buat Adit, sama stiker Dufan.
- Sempet nyasar sama Miftah. Udah gempor pula. =(
- Untung ketemu Prisca sama Giska. Mereka pengingat kita.
- Ternyata banyak juga temen-temen yang telat. Ada nyasar, ada yang beli oleh-oleh dulu.
- Menuju Puspitek.
- Untung 'g perlu jalan lagi kayak malem sebelumnya.
- Aku sekamar sama dua orang yang sekamar kemaren plus double Syara.
- Tempatnya nyaman bgD.
- Hampir serupa sama Makara UI lah..
- Banyak korban penipuan lewat telepon.
- Sempet keramas dulu, tapi tanpa mandi.
- Sekitar jam 12 penghuni kamar 239 pada bobo. Capek.
Kamis, 24 Januari 2009
- Bangun siang lagi.Untungnya 'g shalat.
- Sambil nunggu antrian mandi, sempet foto-foto dulu bareng Nita.
- Sarapan di bawah. Sekalian bawa baju-baju, mau check out.
- Posisi tempat duduk diubah. Bis 1 di bis 3, bis 3 Exact ke bis 1.
- Bis 1 lebih nyaman, lebih enakeun. Ada dvd pula. Jadi nonton degh.
- Tujuan pertama ke Kedubes Malaysia. Kecuali bis 3. Mereka ke STAN.
- Dikasih oleh-oleh sama Kedubes.
- Terus ke Bogor, ke IPB.
- Telat, soalnya macet berat. Bis 3 lebih dulu.
- Belum makan siang. Baru makan lagi malem-malem.
- Pergi ke BoQer (Botani Square)
- Lumayan murah.
- Makan juga di BoQer. Sama nasi goreng crispy.
- Banyak banget. 17ribu 8ratus itu nasi goreng sepiring penuh plus 2 potong fried chicken.
- Sempet beli sepatu sama kaos.
- Jam 9 langsung cabut lagi ke Tasik.
- Tapi nyimpang dulu di At-Taawun buat shalat.
- Ke Cianjur juga buat beli oleh-oleh. Tapi aku 'g turun. Stok uang udah habis. Tinggal buat beli buku bulanan.
- Tidur lumayan pules. Nyampe di sekolah jam 5an.
Jumat, 25 Januari 2009
- Sempet beres-beres dulu. Takut ketiduran.
- Bobo agie.
- Dibangunin sama yang nelpon 'g jelas jam 10an.
- Di rumah bobo lagi soalnya aliran listriknya mati.
- Sorenya fitness. Seru juga. Murah lagi. Sekalian beli gantungan hape di toko pinggir tempat fitness.
- Malemnya, mumpung listriknya lagi okeh, aku ngetik aja..
>> Buat foto-foto n naskahnya nanti menyusul, ya.
Bluetooth-nya 'g tahu di mana.
Dikira laptopnya dibawa Babeh, ternyata ada di Ambu.
08.58 pm
jumat, 25 januari 2009
Bangkit itu susah
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang
Bangkit itu takut
Takut untuk korupsi
Takut untuk makan yang bukan haknya
Bangkit itu mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu marah
Marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu malu
Malu menjadi benalu
Malu karena minta melulu
Bangkit itu tidak ada
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa
Bangkit itu aku
Untuk Indonesiaku
Memetik buah kelapa belum tentu bisa dimanfaatkan semuanya. Namun sepertinya kata kiasan itu tak berpihak pada para panitia JSC (Java Student Competition) dan guru pembimbing SMA Al Muttaqin. Karena, tak hanya buah kelapa yang kami dapat, juga durian runtuh yang kami raih. Lho, kok kenapa?
Beberapa waktu kemarin, kami sempat menjelajahi Pulau Jawa bagian barat, tepatnya Bandung-Jakarta-Bogor. Ada dua kepentingan saat itu, untuk kesuksesan JSC dan survey untuk wisata ilmiah.
Pengenalan perguruan tinggi sedari dini sudah menjadi prinsip SMA Al Muttaqin. Maka, untuk wisata ilmiah yang akan dilaksanakan pada 20-23 Januari ini banyak perguruan tinggi yang akan dikunjungi.
Salah satu perguruan tinggi yang top di bagian barat adalah Universitas Indonesia yang kini berada di bawah pimpinan orang Tasikmalaya, Bapak Prof. Dr. der Soz Gumilar Rusliwa Somantri.
Malamnya, kami semat menginap di Wisma Makara UI yang memang diperbolehkan untuk dipakai oleh tamu. Suasana kampus UI yang megah sudah terbaca dari karakter bangunan dan bentuk fasilitas yang disediakan.
Di saat mentari kembali menerangi tanah Indonesia, kami sudah bersiap menuju ke Humas Rektorat UI. Beberapa dari kami sempat ikut berdiskusi mengenai salah satu perguruan tinggi negeri favorit ini dengan Bapak Meli dari bagian humas.
Berdiskusi dengan Pak Meli tidak terlalu lama, melihat saat itu ada dua orang mahasiswa yang memiliki kepentingan dengan Humas, di samping agenda kami hari itu cukup padat.
Diajak ke Ruang Pak Rektor
Mengunjungi UI bukanlah kali pertama bagi kami. Dulu, setiap menginjakkan kaki di kampus yang rata-rata mencetak calon para menteri ini kami selalu berandai bertemu dengan Pak Rektor langsung. Meskipun di pertengahan 2008 lalu kami pernah bersua dengan beliau, meski di Unsil.
Saat itu, setelah berdiskusi cukup panjang lebar dengan Humas Rektorat UI dan mengabadikan dalam beberapa jepretan, kami singgah dulu di toko souvenir yang berada tepat di depan rektorat.
Tak disangka, sesaat sebelum merchandise UI sah menjadi hak milik kami (alias belum dibayar ke kasir), dua orang dari kami melihat ke arah luar, tepatnya ke arah jalan menuju rektorat.
Seorang Bapak berbadan tegap, berjas hitam, ditemani sekitar tiga orang yang berjalan di belakang beliau lewat sambil melirik ke arah kami seraya menebar senyum dan lambaian tangan beliau.
Pak Gumilar! Refleks salah seorang dari kami. Langsung saja, tanpa pikir panjang beberapa dari kami mengejar beliau. Setidaknya, bisa berfoto bersama, bathin kami.
“Bapak, Assalamualaikum. Selamat pagi.” Sapa kami. Langkah beliau terhenti dan menoleh.
“Waalaikumsalam. Adik, lagi main ke UI ya? Silakan. Sudah ke humasnya?” tanya beliau ramah.
“Sudah Pak. Kami dari Tasikmalaya, SMA Al Muttaqin. Kebetulan dua minggu yang akan datang kami akan mengunjungi UI. Sekarang sedang survey dulu.” jawab pembimbing kami, Bapak In In Kadarsolihin, S.S.
“Oh, ya. Dulu kami pernah bertemu dengan Bapak dan wawancara saat Bapak berkunjung ke Unsil.” sambung Delia.
Beliau mengangguk-angguk dan berdiskusi singkat bersama kami di sana.
Beliau melirik jam tangannya dan berkata, “Mari ikut saya ke ruang rektor. Kebetulan saya ada waktu kosong sampai pukul 10.00. nanti kita ngobrol-ngobrol di sana.” ajak beliau sambil diikuti kami.
Saat itu yang ikut satu lift bersama Pak Gumilar adalah Pak In In, Pak Agus (ketua wisata ilmiah 2009-red), Delia, Wegan, dan Ari. Sedang yang lainnya, Isty, Dwi, Sabrina, Abie, dan Dera belakangan karena mengurus dulu cinderamata berlogo UI, meski pada akhirnya barang-barang tersebut belum dulu dibawa.
Sepanjang menuju ruang rector, tak hentinya beliau melepas senyum dan menyapa rekan pembantu rector. Hingga akhirnya kami masuk ke sebuah ruangan berukuran cukup besar yang atas pintunya bertulis Rector Room.
Sambil menunggu beberapa rekan kami yang tidak berangkat bersamaan, Pak Rektor membuka obrolan dengan menanyakan profil SMA Al Muttaqin seraya menandatangani setumpuk berkas yang sudah ada di hadapannya.
Selain dengan Pak Gumilar, kami juga ditemani oleh Ibu Devi. Di usianya yang terlihat segar dan masih sangat muda (kelihatannya masih sekitar 30 tahunan), beliau sudah menjabat menjadi Wakil Kepala Humas Rekorat.
Banyak pengalaman menarik terjadi di sini. Misalnya saja, saat Pak Rektor memberi perintah, dengan refleks Ibu Devi bilang, “Siap, Prof.”, dengan gerakan tubuh seperti orang Jepang. Kebiasaan itu cukup membuat kami terkesima juga.
Diskusi kami mengenai pendidikan cukup luas dan mendalam. Kami diberi petuah dan motivasi yang besar untuk gigih menaklukkan dunia. Mulai dari pendidikan di Tasikmalaya, sekolah ideal, persepsi akan mahalnya pendidikan, Bahkan, Pak rector sempat membahas mengenai saingan di masa ke depan.
Beberapa menit sebelum diskusi berakhir, kami semua ditanya nama, alamat rumah, hingga cita-cita. Saat itu, ilmu sosiologinya begitu kental terasa. Beliau bisa menebak pikiran orang yang saat itu sedang ada di hadapannya. Sungguh ilmu yang menatik untuk dipelajari.
Sayangnya, waktu sudah menunjukkan pukul 09.58. Jam segitu alias sekitar pukul 10.00 itu akan ada meeting bersama dair Singapura.
Sebelum ke luar ruangan, kami sempat mengabadikan hal tersebut lewat jepretan foto. Kebetulan Ibu Devi bersedia membantu kami. dan lagi beliau ucapkan, “Siap, Prof.”
***
Nah, bagi teman-teman yang pengen tahu lebih mendetail dengan apa yang kami diskusikan, tunggu liputan selengkapnya di edisi depan. Insya Allah kami akan persembahkan liputan-liputan kami, terutama dengan Bapak Aburizal Bakrie (Menko Kesra), rector ITB, dan beberapa tokoh nasional lainnya. Wait for us!
S. A. Deliabilda / XI Exact 2
Q Smart GSM
SMA Al Muttaqin
Melancong ke tanah metropolitan di sisa liburan kemarin dengan berseragam sekolah ternyata tidak hanya menggenggam harapan namun juga berbuah ranum. Di minggu terakhir liburan, beberapa panitia inti JSC (Java Student Competition) yang diusung oleh OSIS SMA Al Muttaqin menjelajahi jalanan Bandung-Jakarta-Bogor.
Salah satu tujuan kami di Jakarta adalah mengajukan proposal kepada Menko Kesra. Tak dinyana, sebelum menuju kantor Menko Kesra, pembimbing kami mendapat telepon dari temannya yang mengabdi di kantor yang beralamatkan di Jl. Merdeka Barat
No. 3 Jakarta Pusat ini.
Dalam perbincangan itu, teman pembimbing kami menginformasikan bahwa kebetulan pada hari itu, Kamis, 8 Januari, di kantor Menko Kesra akan diadakan acara “Capaian Kinerja Menko Kesra di Hadapan Media Elektronik dan Media Cetak Nasional”. Sebuah kesempatan besar yang sayang sekali jika terlewatkan.
Pagi itu, ‘pasukan’ kami dibagi menjadi dua kelompok. Sebagian ke kantor Mendiknas dan yang lainnya ke kantor Menko Kesra.
Mobil-mobil yang rata-rata bernopol B sudah berjajar, bahkan sebagian sudah mulai ‘tumpah’ ke badan jalan. Dan saat masuk ke sebuah ruangan yang sudah ditata sedemikian rupa, terlihat banyak banyak wartawan televisi. Terbukti dengan berjajarnya kamera-kamera di belakang kursi.
Kedatangan Pak Menko Kesra agak terlambat beberapa menit dari yang dijadwalkan. Hal itu dikarenakan beliau sempat ada meeting dulu dengan Bapak Presiden SBY. Saya sempat geleng-geleng kepala mendengar kejujuran beliau sebelum menjelaskan programnya selama setahun ke belakang. Membayangkan bagaimana saat saya menjadi menteri. Hehe…
Menko Kesra atau Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Masyarakat ini membawahi beberapa departemen yang memegang kesejahteraan rakyat, yakni departemen social, departemen pendidikan, departemen pariwisata, departemen pemuda dan olahraga.
Orang terkaya se-Asia Tenggara ini didampingi oleh Sesmenko Kesra, Sekretaris Komnas FBPI, Sekretaris Komite Penanganan AIDS, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia.
Menurut pemikiran beliau, ada tiga pilar menuju Indonesia yang lebih sejahtera, yaitu kemiskinann, tanggap terhadap antisipasi gangguan dalam menyejahterakan rakyat, dan penyeimbangkan investasi antara SDM dan masyarakat.
Oleh karena itu, beliau membagi dalam tiga klaster. Yang pertama mengenai raskin, BOS, BLT, dan Jamkesmas. Kedua mengenai PNPM Mandiri, dan yang ketiga menyelesaikan masalah kredibilitas rakyat. Dalam laporannya, tercatat hal kemiskinan yang sangat dipapas melalui PNPM Mandiri. Begitu pula dengan pendidikan. Melalui BOS, cukup banyak anak bangsa yang diselamatkan dari kebodohan. Bahkan jika dibandingkan dengan tahun 2007 lalu, jumlahnya meningkat tajam.
Program-program lain yang diusung Menko Kesra bersama jajarannya adalah dibukanya Watrung Desa, meskipun sampai saat ini baru Banten, Jawa barat, Jawa Tengan, dan jawa Timur yang menjadi percontohan. Selain itu, ada lagi BLT bersyarat. Syaratnya, keluarga tersebut harus memiliki anak yang bersekolah, selain jumlah pendapatannya yang kecil.
Untuk pendidikan, Menko Kesra bersama Mendiknas mengucurkan dana sebesar 1,4 triliun, lho. Semoga saja bisa lebih cepat menanggulangi ketidakpengetahuanan bangsa Indonesia.
Bersamaan dengan itu, Bapak Menko Kesra meresmikan gedung media center yang aktivasinya sudah dilaksanakan sejak beberapa hari sebelum diresmikan. Tak hanya itu, beliau juga menyerahkan mobil WC umum sebesar 33 buah, mobil tangki air sebanyak 33 buah, dan kapal operasional sebanyak 10 buah untuk 8 provinsi.
Beliau juga menyerahkan hadiah kepada para jawara menulis, baik untuk tingkat umum maupun untuk wartawan. Memang, beberapa saat sebelumnya diadakan lomba menulis mengenai kemiskinan yang dibuka bagi umum dan wartawan.
Saat beliau selesai memberikan hadiah, kami langsung ‘menodong’ beliau. “Bapa, kami pelajar dari Tasikmalaya. Boleh minta waktunya untuk wawancara?” Tanya Delia dengan harap-harap cemas.
Tak disangka, “Oh, boleh. Tapi nanti dulu ya. Saya mau melihat-lihat dulu media center dan mobil.” Jawabnya seraya tersenyum.
Peluang pertama. Berhasil.
Karena takut kehilangan jejak beliau, kami ngingintil terus. Berbeda saat mengejar Pak Presiden dan Ibu Negara, saat itu tak ada yang melarang dekat-dekat. Jadi, santai saja. Mungkin karena situasinya berbeda.
Setelah meresmikan, kami langsung mewawancarai beliau, khususnya bidang pendidikan. Beliau cukup bercerita banyak mengenai hal ini. Secara, pendidikan adalah gerbang utama menuju bangsa yang maju. Dan beliaulah salah seorang yang memiliki peranan penting.
Pengen tau seperti apa dan bagaimana pandangan beliau mengenai pendidikan saat ini? Tunggu laporan khusus berikutnya.
S. A Deliabilda / XI Exact 2
Q Smart GSM
SMA Al Muttaqin













